Sunday, March 2, 2014

Aturan-Mengatur-Diatur

Di era demokrasi lebay seperti sampai hari ini, orang-orang yang sukar diatur kian bertambah di negeri tercinta ini. Melanda juga di sekolah saya. Tak hanya siswa, orang dewasa ikutan menganut azas demokrasi lebay. Alias semau ane.
Disadari atau tidak, perkataan Loki dalam The Avengers ada benarnya. Manusia haus untuk diperintah. Di balik sikap keras kepala sebenarnya ada kebutuhan untuk diperhatikan agar lebih sering diperintah. Ini menurut saya, dari pengamatan saya selama menjalani hampir 2000 hari sebagai guru. Anak badung yang suka sok heroik dengan cara memukuli anak lain demi menyelesaikan masalah temannya bisa menangis sesunggukan ketika diberitahu bahwa dia akan disuruh pindah dari sekolah (true story).
Sayangnya saya kurang suka merhatiin orang. Ketika anak-anak mulai bertingkah, saya akan bilang terserah kalian. Dan ketika mereka mulai memohon sambil berdalih macam-macam seolah saya yang salah, malah tiada ampun. Saya semakin tidak peduli. Cari perhatian bisa dengan cara yang anggun dan pintar, tidak perlu jadi antagonis.
Karena di era demokrasi lebay begini, semua orang sibuk cari perhatian. Jadi kalau semuanya caper, siapa lagi yang merhatiin. Jadi mending pandangan lurus ke depan, kerja keras menuju tujuan hidup.
Ada guru yang saat jadwal mengawas mid semester dibagikan, mengirim pesan singkat kepada sekretaris panitia karena merasa keberatan. Bahasanya, yang lain hanya mengawas 8 kali, sedangkan dia 13 kali.
How come, dia bisa menghitung berapa kali orang lain mengawas. Wah, pasti waktunya banyak sekali. Siapa dia, tentulah orang itu juga, yang suka cari perhatian dengan cara ngambek, marah, murka.
Kalau biasanya diladenin dan dituruti untuk menghindari ribut. Kali ini, perintah Kepsek: Diamkan saja. We'll see on Monday pas mid dimulai.  Biasanya dia suka memboikot sendirian. Mudahan kali ini tidak. Sebagai tmbahan, mengawas mid bukan suatu perintah atau bersifat mengatur. Melainkan tupoksi. Tanggung jawab dengan hati nurani masing-masing.

Tuesday, December 31, 2013

Kaleidoskop2013

Infotainment reramean bikin rekap atau kaleidoskop 2013. Isinya mulai dari Eyang S sampai VP sampai Bella-Adjie. Bukan Bella Saphira dan Adjie Massaid tapinya. (May he rest in peace). Nah, saya juga dunk, sebagai tanda kalau saya guru yang selain punya jurnal ngajar juga punya jurnal peristiwa.
Januari diawali dengan hmmm, ah tidak ada peristiwa besar. Oh tapi 50% guru di sekolah saya ultah di bulan ini. Beberapa bahkan memiliki tanggal yang sama. Februari, mulai tryout. Soal 20 paket, seperti biasa yang bikin soal adalah guru-guru. Honor? Yah cukuplah untuk makan bakso 3x. Tapi karena sudah bagian tupoksi, susah komplen. Maret, tryout lagi. Hasilnya seperti biasa, tidak pernah menggembirakan. April mulai badai. Ujian nasional aja udah momok, ditambah dengan karut marutnya pelaksanaan. Cerita lengkap bisa dilihat di sini. Males mengingat lagi.
Mei, mulai ribet nunggu pengumuman. Juni, kenaikan kelas dan ribet urusan SNMPTN. Oya beberapa siswa saya diterima dari jalur undangan di PTN bagus, tapi malah ribet cari PT swasta. Grrr masih geram kalau ingat. Juli, mulai sosialisasi Kurikulum 2013 (K-13). Libur semester pun dipakai untuk diklat. Saat penerimaan siswa baru, diwajibkan menggunakan sistem K-13. Karena mendadak dan kurang persiapan, akhirnya kekacauan masih mengimbas sampai hari ini. Meski demikian, Juli dan Agustus banyak hari tidak efektif, karena libur puasa dan Lebaran.
Memasuki pertengahan mid, September, perihal wajib tidaknya sekolah kami mengikuti K-13 masih bias. Kabarnya Kaltim tidak diperkenankan menjalankan kurikulum gres ini karena ketidaksiapan sekolah dan guru. Karena belum ada giliran diklat implementasi K-13. Tapi, atas instruksi kepala dinas, komitmen, semua SMA/MAN/SMK wajib menjalani. Baiklah, berbekal pengetahuan seadanya, dijalankanlah si K-13 ini. Di sekolah, sesuai dengan program Sekolah Imbas dan Pengimbas, kami diklat intern tentang kurikulum 2013. The third time for me.
Oktober, setelah midtest, ada perubahan lagi soal peminatan dan lintas minat. Kalau diceritakan di sini nggak cukup, bisa jadi satu cerpen.
November was a busy month. Saya pribadi mengikuti tiga diklat sepanjang bulan sampai awal Desember. Juga ada diklat wajib Implementasi Kurikulum 2013 langsung dari PusKur. Baiklah, yang ini banyak gunanya dan ilmunya. Desember, bulan penuh diklat lagi. Dua diklat, yang terakhir malah agak aneh. Anyway, pembagian raport untuk kelas X yang menganut sistem K-13 akhirnya ditunda sampai selesai liburan. Karena, belum siap itu lah.
Menjelang akhir 2013 saya membaca sebuah opini di Kompasiana yang kembali membuat galau. Bahwasanya peringkat Indonesia dalam uji Math, Sains, dan bahasa semakin merosot, namun siswa di Indonesia juara dalam hal bersenang-senang di sekolah, merasa bahagia, dan dalam bersahabat. Sementara K-13 ditekankan agar anak-anak senang bersekolah dan belajar. Padahal sebelumnya sudah juara senang kok, kenapa disenangkan lagi. Gimana kalau sesekali gurunya yang dibuat senang. Retorik.

Saturday, December 14, 2013

Tips dan Trik

Rubrik atau kolom atau artikel tips biasanya digemari karena isinya singkat (tak banyak yang harus dibaca), tapi informasi di dalamnya padat. Begitu juga dengan trik. Biasanya hubungannya ke rahasia sulap atau penyelesaian soal-soal yang susah (biasanya hitungan) dengan cara singkat. Nah, setelah diklat Implementasi Kurikulum 2013 (K-13) di hotel mewah tapi jauh di samping bandara itu, saya dijadwalkan mengikuti Diklat Tips dan Trik UN, untungnya nggak jauh. Masih di daerah Penajam dan sekitarnya (Pesek).
Dengar namanya, kebayang donk, menyelesaikan soal hitungan kimia di UN dengan mudah, cepat, dan singkat. Katakanlah, soal laju reaksi komplit yang biasanya diselesaikan dalam waktu 2 – 5 menit, bisa diselesaikan dalam waktu 1 – 3 menit saja. Tapi, yang namanya Disdik, pasti punya kejutan. Kejutan pertama, sewaktu acara pembukaan, dikenalkan 3 instruktur mafia (Math, Fisika, Kimia). Dari Johannes Surya Institute, sodara-sodara. Wah, alhamdulilah, ga harus jauh-jauh ke Jakarta. Gretong pula. Pikiran saya, pasti selain membahas soal UN, juga akan ada bonus trik penyelesaian soal Olimpiade Kimia. Tepuk tangan deh buat Disdik.
Kejutan kedua (mungkin memang nasib dan takdir kalau guru Pesek ga boleh seneng lama-lama), saat saya melihat jadwal kegiatan 4 hari itu, rasa senang saya pudar. Hari pertama: pemetaan kisi-kisi UN. Hari pertama, afternoon, langsung pembuatan soal Tryout UN. Sampai hari ketiga, full pembuatan soal tryout UN. Hari keempat lah itu peerteaching (which is ga ada juga karena dicepet-cepetin untuk penutupan). There is no necessary for 3rd surprise karena udah bisa ada kesimpulan bahwa: Diklat ini adalah modus Disdik untuk minta soal-soal tryout UN dari tim guru mafia, tanpa harus membayar “murah”. Karena biasanya udah dibayar murah. Jadi kali ini bisa free, alias vrij (bahasa Belanda) alias percuma (bahasa Malaysia). Tapi ga apa-apa, saya tetep legowo karena toh (katanya) mereka sudah memberikan tips dan trik. *wink.

Thursday, December 12, 2013

Miss Diklat

Setiap akhir tahun, beberapa kantor/dinas/badan pemerintahan sibuk menghabiskan anggaran demi pertanggungjawaban yang jelas. Kegiatan pasti menumpuk di akhir tahun ini.
Tak terkecuali di Dinas Pendidikan. Kegiatan yang paling gampang, tentu saja diklat bagi guru-guru. Apalagi ada "momentum" perubahan kurikulum dari KTSP ke 2013, jadilah banyak diklat dilakukan. Anggaran lumayan, sedikit buat guru, banyak buat orang Disdik. Let's say honornya kalau dibandingkan, 10-90 lah. Lumayan sih ketimbang 0-100 kan ya.
Anyway, sejak tengah November, saya sudah mulai diklat, beruntun sampai awal desember, 3x. Sebenarnya diklat tentang K13 sih sudah beruntun saat Juli kemarin. Saya sudah ikut 2x. Mungkin karena msih kurang pinter, jadi setelah itu saya ikut lagi, tp hanya di skolah, wajib untuk segenap warga sekolah. Jadi, 3x ya. Awal desember kemarin, saya ikut lagi. Tapi kalau sebelumnya hanya pembicara lokal (yg pertama dari Pusat Kurikulum, tp masih sosialisasi), nah yg terakhir alhamdulilah, dari PusKur lagi.
Yang terakhir malah luar biasa anehnya karena diklat dilaksanakan di hotel (this is good), tapi hotel samping bandara. Jauh aja deh. Kalau dari Penajam ke bandara seperti dr Jaksel ke Jakut lah. Padahal ini isinya orang Penajam semua. Jadwalnya 6 hari jadi 3 hari. Instruktur bingung karena menyiapkan materi u/ 6 hari. Guru-guru jg bingung, karena terlalu cepat dan bukannya paham, malah makin bingung kayaknya. Tapi semua harus disyukuri.
Anyway, diklat 3x berturut-turut sepanjang Nov-Des ini bikin saya jarang di sekolah. Dan mulai bikin eneg. Sekali lagi abis ini, bisa muntah beneran. Teman-teman juga menjuluki saya "Miss Diklat". Mudahan saya jadi lebih pintar, berwawasan, dan inovatif dibanding sebelumnya. That's the hope

Sunday, November 3, 2013

Ada Harga, Ada Rupa

Kebijakan "Pendidikan Gratis" di kabupaten tempat saya mengabdi ini (harusnya) membawa kebaikan bagi semua orang, khususnya bagi anak usia sekolah. Alhasil, banyaklah anak usia sekolah berdatangan dari luar kota maupun luar provinsi dan luar pulau untuk bersekolah di sini. Bagus memang,tapi kalau masih ada anak lokal yang justru malas bersekolah, malah diisi anak luar pulau, tepat sasaran nggak ya? Anyway yang jelas sih implikasinya membuat anak-anak dan orangtua terbiasa dengan sistem gratisan kalau menyangkut urusan sekolah. Awal masuk sekolah, misal kelas X (sepuluh) untuk SMA, mereka harus membayar uang seragam dan kelengkapannya. Pembayarannya tentu saja bisa dicicil. Biasanya yang disediakan sekolah hanya pakaian batik dan stelan olahraga. Juga ikat pinggang, topi, dasi, jilbab. Kalau beginian minta digratisin lagi mah gatau diri namanya. Buku tulis dan alat tulis juga tidak digratiskan tentu saja. Tapi guru dilarang menyuruh siswa membeli buku atau LKS. Kalau mau beli sendiri ya terserah. Pokoknya guru dilarang menjual buku atau LKS. Kemarin berlangsung pertemuan Kepsek, guru, dan orangtua/wali murid kelas XII atau kelas 3 yang dibarengi dengan pembagian raport mid semester, membahas bimbel menjelang UN dan perpisahan. Awalnya oleh Waka Kurikulum disampaikan kesepakatan dari sekolah sistem bimbel adalah siswa bebas memilih mapel apa saja yang ingin diikuti dan berapa jumlah pertemuan yang diperlukan. Untuk satu pertemuan dari pihak sekolah menyepakati Rp 7.500. Dengan perhitungan cukup untuk bensin seliter, paling tidak. Ketika ditanya ke orangtua/wali murid, tentang setuju atau tidak. Malah ada yang menawar Rp 5.000. Saya yang ada di situ langsung berpikir, mending orangtua/wali murid nggak mau bayar bimbel biar tak ada bimbel sekalian, nggak repot. Kepsek dam Waka Kurikulum yang agak terganggu malah melontarkan pernyataan, "Sekolah sudah gratis, yang tidak mampu diberikan beasiswa, masak bimbel tidak mau membayar." Jadi mikir kalimat jokes yang "Gratisan kok minta selamat." Jadi mikir, waktu seseorang pun sebenarnya tidak bisa dihitung gratis since there is quote "Time is Money". Lha ini waktu dan ilmu yang dikasih. Akhirnya tidak ada kesepakatan mereka sanggup membayar berapa dan muka beberapa yang hadir sudah merengut (termasuk muka saya pastinya). Setelah membahas bimbel yang diinginkan 5 ribu per pertemuan, mereka disodorkan gambaran rincian acara perpisaha. Sekali lagi, perpisahan itu ditawarkan. Jika tidak ada yang mau, ya tidak usah diadakan. Kalau sekolah yang disuruh membayarkan, anggarannya tidak ada. Sama seperti bimbel. Dengan rincian 750 ribu (bisa dicicil) untuk perpisahan dan yearbook, mereka juga terkesan berat. Soal perpisahan sih kami guru tak terlalu repot. Tapi soal bimbel yang ditawar lima ribu itu. Aduh. Ada harga ada rupa. Bandingkan dengan lembaga bimbel yang ratusan ribu sampai sejuta yang pasti pendekatannya beda dengan guru sendiri (tanpa mengecilkan arti para tentor bimbel). Nah ini minta lima ribu bahkan kalau bisa gratis. Padahal kewajiban guru memberikan layanan (pendidikan dan pengajaran) seprima mungkin. Rasanya kok nilai pendidikan jadi kecil sekali. Pasti karena terbiasa gratis.

Sunday, September 15, 2013

Lamaran dan Jujuran

Beberapa minggu lalu seorang ibu paruh baya datang ke sekolah. Orang tua murid kelas X. Meminta izin agar anaknya (yang sudah seminggu tak ada kabar) untuk ditambah izinnya. Alasannya, seminggu kemarin anaknya malu ke sekolah karena beredar gosip kalau anak itu akan dilamar, tapi tak kunjung jadi. Mungkin malu karena dianggap sesumbar. Waktu ditanya guru BK kenapa nggak sekolah aja sampai lulus, nanti aja nikahnya. Ibu itu malah bicara ngalor ngidul kalau sebenarnya anaknya masih ingin sekolah tapi pihak lelaki ingin segera menikah. Ya sudah, kata guru. kalau memang maunya begitu, silakan kawin lah. Minta perpanjang izin satu minggu untuk apa lagi? Nanti dulu, kata si ibu. Dalam seminggu ini kami memberi syarat jujuran (besarnya uang syarat melamar) 45 juta. Kalau laki-lakinya tak sanggup, kami batalkan lamaran, lalu dia sekolah lagi. Boleh ya, Bu, tanyanya kepada Waka Kurikulum (mewakili Kepsek saat itu) dan kepada guru BK. Malas menjawab karena memaksa, ya atau tidak mungkin akan sama saja, maka ibu itu pulang. Seminggu kemudian, ibu itu dan anaknya muncul pagi-pagi sekali di sekolah. Kebetulan saya yang ketemu. Saya yang waktu itu tidak mengerti akar masalahnya (dan ga ngeh juga maksud ibu itu pas bicara dengan saya), hanya memintanya menunggu guru BK. Ternyata pacar anak itu tidak menyanggupi si 45 juta ini. Jadilah si anak back to school. Si Emak nggak jadi dapat uang. Saya hanya sempat menerti satu kalimat dari ibu itu saat bicara pada saya, "Bapaknya dia marah-marah, kalau belum sanggup melamar, tidak usah melamar." Jadi nilai anak itu untuk dikasih ke cowoknya 45 juta. Pendidikan terakhir: SMP. Oya, sekolah kami menerimanya untuk tetap bersekolah. Karena yaaa, kebijakan pendidikan gratis, wajib belajar 12 tahun. Semua anak harus sekolah.

Saturday, August 31, 2013

Kurikulum 2013

Rasanya sudah lama sekali ribut-ribut riweuh soal Kurikulum 2013. Padahal kalau mengintip jurnal, ribut-ributnya baru berlangsung dua bulan lalu. Juli pas libur semester semua guru SMA (khususnya yang mengajar kelas X) wajib mengikuti workshop Implementasi Kurikulum 2013. Yang menjadi materi seputaran teknis pelaksanaan, yg tentunya sudah di-publish bersama Peraturan Menteri yang bisa dibaca-baca menjelang bobo malam.
Lalu apa, selain teknis pelaksanaan tentulah praktik. Perangkat mengajar dibuat sinkron dengan apa yang diharapkan dapat dilaksanakan dalam kurikulum yg sedang naik daun ini. Utamanya dalam mengajar, guru menggiring siswa untuk mencari tahu sendiri, merumuskan pertanyaan sendiri (at least sampai muncul pertanyaan), juga menyelesaikan masalah sendiri. Dijamin, jika trik ini berhasil, guru hanya duduk manis di kelas.
Gaungnya tentulah menjanjikan dan membawa angin segar bagi guru. Terlebih, penjurusan (science-math, social, humaniora).sudah sejak kelas X. Jelas angin segar. Saya pun berpikir tahun ini, dengan pelaksanaan kurikulum.model begini bisa membuat capek hati dan pikiran berkurang.
Seminggu masuk sekolah, wakasek bidang kurikulum di sekolah saya mulai bertapa. Membaca apa saja menyangkut K-2013 ini, bertanya pada siapa pun yang dianggap tahu, browsing pula.
Beberapa hari setlahnya, muncul di koran bahwa Kaltim dianggap belum mampu menyelenggarakan pendidikan berbasis K-2013 karena banyak guru yang belum siap. Alhasil di setiap kabupaten/kota ditetapkan sekolah piloting. Itulah yang akan menyelenggarakan K-2013 di sekolahnya yang nanti akan di-shared dengan sekolah lain.
Ah, kalau dianggap belum siap, lalu untuk apa training seminggu penuh (pada saat libur semester) yang wajib diikuti oleh guru itu? Sementara di PPU sendiri telah ada komitmen untuk pelaksanaan penuh si K-2013 ini. Bertentangan dengan perintah dari Kementrian pusat.

Published with Blogger-droid v2.0.10

Tuesday, April 23, 2013

UN yang Tertunda

Jumat tanggal 12 April saya mulai gugu (gundah gulana). Bagaimana tidak, Senin tanggal 15 April mulai UN. Mengawas UN akan sangat membosankan tentu. Belum lagi sekolah tempat saya mengawas jauuuuhhh. Tahun ini, tidak seperti tahun sebelumnya, UN dimulai jam 7.30. Dulu-dulu jam 8. Sesuai POS, pengawas wajib hadir 45 menit sebelum UN dimulai. Well berarti dengan segala.perhitungan, saya berangkat dari rumah jam 6.20. Di Kaltim jam segitu masih gelap.

Sabtu saya tetap datang ke sekolah mesti tidak ada tujuan. Karena mengawas, saya jelas bukan panitia UN di sekolah. Saya lihat panitia kalang kabut menyiapkam segala rupa printilan untuk kelancaran ujian. Kepsek memberitahu bahwa soal belum tiba di Polres. Besok katanya (Minggu).

Sabtu malam ada SMS dari Wakasek bid. Kurikulum. SMS yang tak kalah konyolnya dengan SMS pemberitahuan kalau saya menang undian yg tak pernah saya ikuti. SMS terusan dari Kepsek. Isinya: "Pak . . . ini berita terheboh untuk nasional: 'Aslkm Yth seluruh dekan dan pengawas lapangan, ini sms dari Panitia Pusat Jkt : Ujian Nasional SMA digeser menjadi Rabu s/d Sabtu dengan catatan: Mapel Senin pindah ke Jumat dan Mapel Selasa pindah ke Sabtu, sedang Mapel Rabu dan Kamis tetap. Ini penyampaian resmi dari Ka. Balitbang atas persetujuan Mendikbud. ...' "

SMS malam minggu. Menjelang jam istirahat malam. Saya bilang : ah, hoax! Sampai akhirnya sms minggu pagi tanggal 14. Katanya sudah dipastikan UN diundur hari rabu, kamis, jumat, senin. Sabtu kosong. Yang bingung lagi, Senin Selasa ngapain? Siswa kelas X dan XI sdh dikabari libur. Singkatnya, Senin subuh jam 4 beredar SMS bahwa  guru diminta hadir di sekolah untuk berbincang dan berkoordinasi. Dari situ diputuskan wali kelas X dan XI diminta untuk mengabari siswa bahwa Selasa tetap hadir seperti biasa.

Senin itu ada kabar lagi kalau ada ralat dari Kemendiknas, UN dimulai Kamis. Jadi jadwalnya Kamis, Jumat, Senin, Selasa. Heran, kenapa tidak Senin-Kamis saja sekalian. Akhirnya tibalah hari Rabu (17/4). Soal masih belum ada. Sementara daerah lain kabarnya soalnya nyasar semua. Silaf mata kok parah.

Di TV ada news ticker: Mendiknas memastikan UN di Kaltim.diselenggarakan Kamis (18/4). Karena yg doi tahu soal sdh diberangkatkan ke Kaltim. Padahal sampai tengah malam soal belum sampai juga. Belum lagi didistribusikan ke kecamatan. Alhasil kami disuruh menunggu kabar kepastiannya sampai jam 00.00. Berasa new year's eve. Dan ditunda lagi ke Senin (22/4). Libur lagi!!!! Tapi Kamis kami tetap ke sekolah. Menghabiskan snack yang sudah terlanjur dipesan. Setelah pulang sekolah, ada kabar kalau UN dimajukan ke Jumat (19/4) dengan mapel Matematika. Habis lagi pulsa buat telpon/SMS. Untuk menceritakan penundaan UN saja sampai begini panjang. Kesimpulannya, berkali-kali ubah jadwal. Padahal kalau janji mau ulangan harian lantas diundur karena lupa bikin soal atau ulangan mendadak, pasti guru dimarahi siswa. Lha ini ujian nasional.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, April 22, 2013

Pra-UN 2013

Sebelum pelaksanaan Ujian nasional (UN), ada pelaksanaan try out. Tentang dari mana soal berasal tampaknya menjadi kebijakan pemerintah daerah masing-masing. Tahun 2013 (sperti tahun-tahun sebelumnya), yang membuat soal adalah guru-guru setiap mata pelajaran. Di kabupaten ada forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Nah, kepala dinas pendidikan jauh-jauh hari biasanya mengumpulkan para ketua MGMP untuk diarahkan agar membuat soal try out.

Tahun ini karena digadang-gadang akan bersistem 20 paket soal (seruangan ada 20 siswa--artinya tiap siswa tidak akan mendapat soal yg sama), maka guru di MGMP diminta membuat 20 paket soal. Anggota MGMP Kimia tidak sampai 20 orang. Artinya beberapa guru kebagian membuat 2 paket soal.

Saya termasuk yang membuat 2 paket soal. Artinya total 80 soal. Harus sesuai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang termaktub dlm lampiran Permendiknas tentang UN 2013. Itu baru tryout 1. Belum lagi tryout 2.

Alhasil, tryout 1 karena hasil yg dikoreksi oleh tim panitia dari Disdik Kab. tidak jelas, apakah sudah dikoreksi tapi belum dikirim via email, atau sudah dikirim via email tp saya kebingungan mencari (karena yg terlihat hanya sebagian sekolah. Tidak ada nama siswa saya di situ), akhirnya saya memeriksa secara manual, karena siswa mengisi 2 lembar jawaban (LJK dan lembar manual silang). Dan hasilnya, alhamdulilah ya sesuatu. (tidak usah disebutkan nilainya).

Tryout kedua, guru kembali membuat soal. Saya kebagian membuat 2 paket soal lagi plus mengedit 2 paket soal buatan teman yang karut marut. Kali ini Disdik meminta MGMP yang membuat kunci jawaban di LJK. Ada 20 LJK yang harus dibulat-bulati sebagai master kunci.

Tahu tidak berapa bayaran guru-guru untuk membuat soal bejibun itu? Well, tahun lalu, honor yang dikasih ke MGMP adalah, saking kecilnya sampai kami sepakat untuk tidak dibagi. Bendahara bingung mau memberi honor kurang dari seratus ribu rupiah ke tiap anggota MGMP. Akhirnya disepakati untuk dimasukkan ke kas MGMP.

Padahal, kalau diintip anggaran pembuatan soal di disdik itu. Hmmm, yah begitulah. Yah, mau gimana lagi. Oya, walaupun guru yang membuat soal, tapi kami jamin tidak ada satu guru pun yg memberikan soal itu kepada siswanya. Jadi, membaca blog seorang guru "muda" yang menceritakan kecurangan UN di sekolah yg diawasnya.plus membaca replies nya yang sangat banyak, yang skeptis, saya marah. Apalagi ada yang sok tahu menggeneralisasi bahwa pelaksanaan UN 100% di Indonesia curang. Wah, I'm so mad sampai enggan menaruh link blog itu di sini. Nanti semakin ngetop blognya. Emoh!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, November 12, 2012

Mahapatih

Ini bukan nama fans nya Kerispatih. Anggaplah patih di zaman kerajaan dulu. Tugasnya mungkin mendekati personal assistant zaman sekarang. Tapi ini mencakup semuanya, termasuk juru pikir, juru bicara, juru jilat. Kebetulan yang juru ini guru.

Jadi kalau rajanya kurang pikir kurang siasat, niscaya si juru ini akan menjadi raja kecil. Nggak papa kecil, yang penting raja. Kalau rajanya kurang pikir kurang siasat, yang untung si raja kecil ini.

Ada urusan perang yang menjadi kepentingan panglima perang, patih yang menghadang raja dan bilang, "Biar saya saja. Panglima kurang berdedikasi dan agak malas."

Ada pertemuan urusan ekonomi yang menjadi tugas bendahara kerajaan dia pula yang mengajukan diri dan bilang, "Dia suka menggelapkan uang dan membengkakkan anggaran." Ada pertemuan urusan pendidikan yang harusnya tugas mahaguru, dia yang menawar raja dan bilang, "Mahaguru itu kurang pintar dan sering alpa dalam tugas. Biar saya saja."

Akhirnya raja bilang ke semua petinggi kerajaan, "Hanya Mahapatih yang bisa saya andalkan. Yang lain bahkan tidak bisa dikatakan sebagai pelengkap. Perlu didisiplinkan lebih lanjut." Akhirnya mahapatih hidup bahagia karena pandai menjilat dan adu domba. Hidup lama sambil menunggu karma.

Gambar dari www.masksoftheworld.com


Published with Blogger-droid v2.0.4

Wednesday, September 12, 2012

Missing

Akhir-akhir ini (let's say last 2 weeks),  murid menghilang sedang nge-trend di SMA saya. Setidaknya 2 minggu ini sudah ada 3 kasus. Ada yg menghilang sendiri, ada yang bareng temen deket. Kalau kabur dari rumah sih bukan tanggungan sekolah. Masalahnya kaburnya dari sekolah. Ortunya mengira si anak sekolah, tapi nggak pulang-pulang.


Ada yang sudah kembali ke pangkuan ortu. Ditanya kemana, ternyata tinggal di rumah cowoknya. Yaksip. Kalau di US, pasangan yang dah pacaran lama pun nggak serta merta hidup bersama. Perlu pemikiran, kesepakatan, dll. Kalau ini kok kayaknya nggak dipikir-pikir, main langsung pindah tidur aja.


Ada lagi yang kabur karena males di rumah. Males dipaksa sekolah kali. Entah. Kalau sampai kabur dari rumah pasti rumahnya yg nggak enak. Easy to say eh. I've a daughter now. Meski masih bayi dan belum berkesempatan dating dsb, tapi saya udah jadi ortu. Ortu harus menyadari gimana bikin nyaman si anak agar betah di rumah. Gimana caranya anak lebih milih untuk kumpul dengan keluarga instead of being with someone else.


Entahlah, mungkin memang gejolak darah muda remaja sekarang yang ingin lebih cepat dewasa. Tapi malah nggak dewasa karena nggak mikir panjang. Jadi inget masa SMA, saya sudah pisah dengan ortu, pulang ke rumah seminggu sekali. Bisa pulang aja udah feels like in heaven. Rumah justru tempat terindah di dunia waktu itu.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, August 20, 2012

Para Kepsek

Setelah UN berlalu, pas ada jadwal mutasi dan pelantikan, tiba-tiba Sang Beliau Kepala Sekolah dimutasi ke Disdik, dengan jabatan khusus. Anggap saya lupa jabatannya. Tapi kepala sub bidang lah. Lumayan. Beliau senang pastinya. Banyak pihak yang juga senang. Saya yang masih cuti hanya dengar lewat SMS. Tentu tidak senang.





Maksudnya tidak senang bukan berarti saya iri Beliau dikasih jabatan dan pindah ke Kantor. Sama sekali bukan. Saya tidak mengincar hal semacam itu. I love being a teacher. Kok mendadak jadi tentang saya? Intinya saya merasa kehilangan Kepsek yang terbaik yang pernah memimpin saya, pada saat program memajukan sekolah masih bergelantungan menunggu untuk dilaksanakan.





Beberapa nama muncul menjadi nominasi pengganti Sang Beliau. Ada kepsek dari SMA di pedalaman sono. Orangnya pintar sih, master of engineering gitu lah. Chemistry pula. Tapi sosialisasinya gundul. Kaku. Misal saya juri audisi, akan saya bilang "next!"





Lalu ditunjuk pelaksana tugas kepsek, yaitu Bu Ani yang waktu tes kepala sekolah tahun ini mendapat peringkat 1. Oke beliau fresh graduate lah. Orangnya agak diktator, beberapa kolega di sekolah saya mungkin agak menolak kalau dia yang diangkat jadi kepsek di sekolah saya.





Selama kepsek dijabat oleh Plt, ada nama lain bersliweran. Ada kepsek lain, dari SMP yang sudah RSBI. katanya sih dia hobi travelling dan sistem keuangannya kabur. Oke, next!





Setelah menjalani tirakat setiap malam diiringi dengan spekulasi dan gosip-gosip dari Disdik, akhirnya penantian saya terjawab pas pelantikan sebelum libur puasa kemarin. Sekaligus menjawab rasa penasaran tiap orang. Ternyata Pak Jamin, guru sekaligus waka bidang kurikulum senior dari SMA 1. Mengikuti tes calon kepsek seangkatan dengan Bu Ani, tapi pas wajib magang, beliau yang magangnya di SMA 8 ga pernah muncul tuh. Ujuk-ujuk datang minta tanda tangan aja. Yah, at least orangnya santun, penyabar, dan ga pernah marah katanya. Yah well, itu yang dibutuhkan dari seorang kepala sekolah. Benarkah? Well, next!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tuesday, June 12, 2012

UN-expected

Pengumuman kelulusan tanggal 26 Mei lalu menyisakan tanda tanya besar di kepala saya. Sebenarnya nilai-nilai UN yang menghebohkan setiap tahun hampir selalu menyisakan pertanyaan besar. Meski tak pernah terjawab secara pasti. Jadi kami hanya mereka-reka.





Tahun lalu mapel Kimia di sekolah saya, berdasarkan nilai rata-rata hanya berada di grade C. Rata-ratanya kalau tidak salah ingat sih 5,9 atau 5,75. Atau 6 ya? Lupa. Dengan nilai tertinggi 8,25 kalau tidak salah. Diraih oleh siswa yang bukan "chemistry master" meski dia termasuk pemerhati pelajaran saya.





Tahun ini, saya sebenarnya harus bangga dan bersyukur meski harus berbagi itu dengan substitute saya (saya cuti hamil) karena kimia berada di grade A. Yeiiiyyy! Ya, substitute saya mulai menangani anak-anak sebulan sebelum UN. Tidak penuh sebulan memang, karena ada tryout dan ujian sekolah. Entah kenapa saya faktor sebulan itu membuat saya berpikir kalau justru itulah yang ampuh.





Ibarat kata gini. Saya punya pasukan yang akan maju perang. Saya membekali mereka dengan perlengkapan perang yang menurut saya sudah memadai untuk mereka, minimal untuk dapat bertahan hidup. Sampai di garis depan, saya tak lagi bisa mengiringi mereka. Tugas saya diganti oleh Panglima Arin. Dia mengecek dan ternyata perlengkapan itu sangat kurang. Pas Panglima Arin tanya, mana ini, mana itu, pasukan saya bilang, "Rasanya sudah dibekali tapi hilang di jalan, atau kami buang ya? Atau jangan-jangan belum dibekali ya? Lupa, Panglima." Akhirnya Panglima Arin membekali ulang. Karena sudah di garis depan, rasanya kok susah untuk dihilangkan.





Akhirnya, nilai rata-rata 7,99. Daaannn, nilai tertinggi milik murid saya yang nggak ada minat-minatnya sama sekali dengan pelajaran. Bukan cuma Kimia. Bukan anak yang rajin juga cerdas. Nilainya 9,25. Salah 3 doang. Enak ya nilai UN sampai segono. Nilai EBTANAS Kimia saya aja dulu hanya mendekati 7. Lho, kok sirik? Saya nggak mau ngomongin pelajaran lain ya. Meski math ada yang 10. Sayang kalau nggak diomongin hehe. Bisa nggak sih nir-salah? Ternyata bisa. Diraih oleh murid yang jarang masuk sekolah karena dia atlet yang sering keluar kota. Tapi dia memang lumayan pintar.





Intinya nilai rendah membuat saya galau. Nilai tinggi nggak juga bikin happy karena bertanya-tanya, dapat jawaban dari mana?








Published with Blogger-droid v2.0.4

Tuesday, June 5, 2012

Sentuhan

Anggap saja ada guru agama di suatu sekolah. Yang namanya guru agama, anggap saja tahu, mana yang muhrim, mana yang bukan. Mana yang boleh disentuh, mana yang tidak boleh. Atau kalau pun harus menyentuh, mungkin boleh kalau terpaksa. Misal membopong saat pingsan. Lalu bagaimana kalau pakaian sudah tertutup dan berjilbab tapi masih muncul sentuhan? Masa perempuan lagi yang disalahkan? Anggap saja ada murid perempuan kelas X mengadu kepada orangtuanya kalau (anggap saja) dia telah dilecehkan oleh (anggap saja) guru agamanya. Anggap saja murid ini diberikan tugas di luar kelas. Anggap saja guru agama ini entah kenapa mengambil ponsel si murid di kantong bajunya. Anggap saja ada sentuhan ke (maaf) dada. Anggap saja ini seperti sengaja dilakukan karena dia melakukan berulang. Anggap saja bukan hanya itu. Si guru meminta secara eksplisit untuk dicium. Jika murid menolak, anggap saja guru itu mengancam akan memberi nilai jelek. Akhirnya, ortu murid mengancam akan melapor ke polisi, namun anggap saja sekolah memilih bertanggung jawab dan membujuk ortu untuk tidak melapor. Lalu bagaimana? Anggap saja tidak ada yang tahu selain para guru, kepala sekolah, serta murid yang dilecehkan dan ortunya. Anggap saja si murid tidak curhat ke teman/sahabatnya. Anggap saja ortunya merahasiakannya dari tetangga, keluarga, dan teman mereka. Anggap saja para guru tidak bercerita kepada suami/istri/teman mereka. Anggap saja saya menulis fiksi. Maka pelecehan ini akan tetap tersimpan dan si guru agama tetap tenang. Anggap saja selama ini guru itu tidak pernah memukul (maaf) bokong atau mencolek pinggang murid perempuan. Anggap saja guru itu tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Monday, June 4, 2012

Sengketa Jam

quiet the mind, to truly hear.

Peraturan kalau guru "wajib" mengajar 24 jam seminggu emang hampir selalu jadi masalah. Masih lekat di ingatan saya tentang jam mengajar Matematika yang saya ambil sedikit tahun lalu. Itu juga bikin rempong dan ribut. Padahal cuma sedikit. Gimana kalau dua dikit.
Kali ini menimpa guru BK. Jadi, guru BK dianggap mengantongi jam belajar 24 jam kalau membawahi (untuk konseling) sekira 150 siswa (kurang lebihnya saya ga ingat, tapi sekira itu lah). Nah, siswa di sekolah itu ya kurang lebih segitu. Jadi pas. Ujuk-ujuk datang guru BK baru dari Kota M. Pindah ikut suami. Biasa, via orang-orangnya si "ono". Maka dapatlah guru BK ini, sebut saja Ibu Mafitah, posisi di sekolah kami. Entah ya, sekolah kami ni seakan posisi yang nyaman untuk tempat tujuan pindah. Anak pindahan bermasalah, pindahan karena mencari sekolah gratis dari Provinsi SS, pindahan karena bosan di sekolah asal, dsb. Maklum, tempatnya tak jauh dari perkotaan (perkotaan mana maksudnya?). Jadi posisi menentukan nasib. Nasib baik? Tidak juga, nasib kedatangan orang baru sampai membludak. Posisi dekat dengan perkotaan cuma SMA Super dan sekolah kami. SMA Super ya nggak mau menerima orang semberengen, akhirnya "diantar" ke sekolah kami.
Back to Guru BK. Mau tak mau guru BK sebelumnya harus berbagi siswa dengan si Mafitah ini. Tapi, Ibu Mafitahnya marah dan merasa dicurangi karena pembagian siswa dianggap tidak adil. Guru BK lama mendapat lebih banyak (dan rasanya masih memungkinkan untuk mendapat TPP. Untuk yang satu ini saya tidak tahu pasti gimana persyaratannya). Karena Mafitah minta jumlah siswa disamakan, akhirnya Guru BK lama jadi ga bisa dapat TPP. Komplain lagi. Kepsek memutuskan untuk mengubah jumlah secara internal. Dianggap dua guru ini cukup mengajar 24 jam seminggu (semacam manipulasi). Eh, ada yang ribut lagi, si Bu Ani. Dia bilang, nanti kalau ketahuan, sekolah yang kena bla bla bla. Akhirnya kedua guru BK ini jadi perang dingin.
Suatu waktu, pas sekolah sepi (rasanya pas Try Out). Karena menjelang cuti hamil, saya ga ikut ngawas TO. Saya iseng keliling sekolah, lewatin ruang ujian, ruang TU, sampai akhirnya ke ruang guru. Hanya ada mereka berdua di situ (guru-guru BK). Saya masuk, mereka sedang diam, duduk bersebelahan, tidak saling menatap. Saya duduk di depan guru BK lama, akan memulai obrolan, ternyata si BU Mafitah langsung bicara. Tenang, tidak ketus, tidak nyaring, katanya, "Saya tidak enak dilihat anak-anak dan guru lain, sesama guru BK kok diem-dieman. Jadi tolong Ibu jangan menyimpan masalah dengan saya."
Guru BK lama bilang, "Saya tidak merasa ada masalah dengan Ibu. Saya tidak keberatan ...." (seterusnya lupa).
Bu Mafitah, "Kalau saya dianggap mengambil jam Ibu, saya keberatan, karena saya juga merasa tidak ada keadilan di sini."
Saya ngeloyor pergi. Ternyata sedang "berantem".
Pas saya nongkrong di ruang TU, datang guru BK lama. Lalu dia bercerita pada saya dan Reny sambil menangis. Intinya dia jengkel, karena kedatangan guru baru dan langsung minta berbagi jam dengannya. Kalau jam dibagi, otomatis dia tidak akan mendapat tambahan penghasilan which is sangat berharga buat dia. Sementara, Bu Mafitah bilang, dia ga masalah ga dapat TPP karena sejak dulu dia selalu merasa kecukupan, tak pernah kurang. Bukan masalah uang. Ciri orang songong, ribut soal uang tapi ujung2nya bilang: Bukan masalah uangnya, saya tak pernah berkekurangan bla bla bla, seolah tidak butuh uang. Siapa yang tidak butuh uang? Makin tersinggung guru BK lama dan bilang. Kalau saya jelas masalah TPP karena saya bekerja untuk mencari uang.
Singkat cerita, hari-hari berikutnya mereka berseteru dan Heather ikut memanas-manasi. Kali ini dia berada di pihak Ibu Mafitah entah untuk alasan apa. Dia malah yang paling kencang marahnya. Ga tau masalah dia apa. Kabarnya sekarang dia mendapat jam tambahan di sebuah SMK. Atau dua buah? Entahlah, yang penting semua happy. Maksudnya semua dapat TPP.

Monday, January 23, 2012

Hamil

Zaman dulu, waktu saya masih SMA (SMU waktu itu), kalau ada anak sekolah yang hamil, sekolahnya dicap jelek. Dianggap tempat berkumpulnya "anak nakal". Well itu dulu. Lalu berlomba-lomba lah setiap sekolah agar jangan sampai ada yang dihamili, at least sampai selesai EBTANAS. Singkatnya, dulu hal itu dianggap aib seaib-aibnya. 
Sekarang, mungkin masih aib, tapi rasanya udah enggak aib seaib-aibnya. Aib kadar normal. Rasanya kalau ada sekolah yang menelurkan pelajar hamil, yah sudah, paling juga dikeluarkan. Kalau si anak bisa berinisiatif menggugurkan dan sekolah pura-pura tidak tahu, maka selamatlah.
Di sekolah saya, setidaknya ada 1 kasus tiap tahun. Malu? Atas kapasitas saya sebagai apa sehingga saya mesti malu? Paling cuma diejek kolega dan kawan (waktu saya belum hamil): "Ih, kalah ya sama muridnya." Saya, seperti biasa cuma nyengir.
Jadi begini ya, setiap guru ketemu siswa cuma 2-5 jam per minggu. Isinya materi pelajaran. Nyelip-nyelipkan nasihat cuma 15 menit (kalau saya sih, nggak tahu guru lain yang suka ngobrol ya). Itu pun isinya seputaran kurangi megang gadget dan kalau ingin bisa mengerjakan soal Mafia (Math, Fisika, Kimia) ya harus banyak latihan soal. That's it. Nggak terlalu sering menyinggung soal gaya berpacaran--paling seputaran  permasalahan dalam pacaran yang bisa mengalihkan semuanya. Urusan putus, selingkuh, cemburu, dan sebagainya. Tentang yang lain, misal mereka pacaran di semak-semak, kuburan, di rumah cowok saat ortunya ga ada, di hotel murmer, saya usahakan nggak pernah masuk ke ranah itu. Karena sepertinya too negative dan agak menuduh. Kecuali untuk anak wali yang mengeluh soal kewanitaan, biasanya saya ya berusaha untuk nggak nuduh dan mengingatkan untuk hidup dan pacaran "bersih" atas nama kesehatan kewanitaan.
Jadi kembali kepada kapasitas sebagai guru. Kalau boleh digeneralisasi, saya dan teman-teman guru sebatas mengingatkan tentang itu. Mereka dikenalkan soal kesehatan reproduksi, ada bidangnya di Pusat Informasi Konseling Remaja. Ada materi tentang kesehatan remaja (sex ed) saat masa orientasi dan ada seminar-seminar tentang perilaku remaja termasuk seks bebas dan narkoba. Ada pelajaran Biologi, ada pengembangan akhlak. Lagian secara total, sekolah cuma menyita sepertiga waktu harian mereka. Itu pun rasanya tidak tersita banget karena anak sekarang lebih cuek dan semau gue. Jadi, masih tanggung jawab sekolah? Jadi salah siapa? Salah sekolah? Salah saya? Salah teman-teman saya? *lho
Kalau ada siswa SMA 8 yang hamil, terus terang saya sedikit merasa kecolongan, tapi tidak lantas menyalahkan diri. Terlebih dari dua kasus terakhir di dua tahun kemarin, mereka sudah hamil besar saat baru beberapa bulan masuk di SMA. Jadi, kalau dihitung-hitung (kepo banget ya ngitung-ngitung) proses pembuatannya ya saat lulus SMP. Toh tidak lantas kita menyalahkan SMP itu.
Di kota yang agak besar, masalah ini toh biasa. Lebih parah bahkan, mainnya udah ke praktik aborsi. Ini bukan rahasia lagi. Jadi, apa saya masih malu kalau ini diketahui orang? Rasanya tidak juga. Apa saya perlu merasa kecolongan? Lumayan. Tapi siapa yang kecolongan? Yang hamil tentunya.

Thursday, January 19, 2012

SIKSA!!*

 
Semesteran kemarin lumayan membuat stres dan agak membuat marah.
Kelas X angkatan 11/12 ini benar-benar memilukan dan bikin pengen jedotin kepala ke tembok. Kepala siapa? Kepala anak-anak itu lah, ngapain juga kepala sendiri. Sakit dunk. 
Rupanya apa yang telah diajarkan ke anak-anak itu, yang sehari-harinya mereka dengan mantap dan gagah bilang: Ngerti, Bu. Gampang, Bu... ketika diujikan di semesteran bersamaan dengan materi yang lain, mereka lupakan. Mungkin dianggap remeh temeh. Udah yakin pernah tau, jadi ga perlu dipelajari lagi. Atau nggak ngerti maksud soal (?!?). Atau nganggap bakal lulus aja? Toh ada remedial.
Yang memuakkan, udah bikin soal capek-capek, berpikir keras, memilah dengan hati-hati sambil berpikir: bisa nggak ya kalau dikasih soal ini? -- Eh ternyata mereka ngerjakannya tutup mata, meramal. Dan salah! Asal silang.
Yang ngajar matematika sampe bilang: Saya nggak mau koreksi pekerjaan mereka, paling juga nilainya 2, 3, 4.
Yang ngasih remedial ngeluh: Apaan, udah remedial soalnya sama, tetep ngejawabnya yang salah.
Saya sih males ngasih remedial, karena sama aja. Dan hampir sekelas remedial. Semua mata pelajaran!
Bayangkan, mereka nanyanya: Bu, kapan remedial ini? Pak, kapan remedial itu? Semua mata pelajaran ditanyai. Hidup kok cuma untuk remedial. Mendingan ga usah belajar sehari-hari. Langsung ujian aja. Toh sama aja. Tapi kalau saya ngomong gitu ke forum guru, dianggap nggak menghargai proses dan malas melakukan proses. Lha wong prosesnya mandeg. Kayak dorong mobil yang ga bisa jalan sama sekali. Kalau mogok aja mending bisa didorong. Model yang ginian anggap aja ga ada ban satu. Ya nggak jalan. Bikin keringetan tapi ga maju-maju.
Akhirnya saya memutuskan meniadakan remedial. Mereka bersorai karena dipikirnya bagus semua. Oke, nilai saya utangi, tapi tar kalau ketemu di semester baru, SAYA SIKSA KAMU! begitu pikir saya. Dilembutin ga mempan, waktunya dikerasi. 
Kadang sih ga peduli, wong Kimia ini. Nggak terlalu vital untuk kehidupan mereka, specifically. Asal tahu dan mengenali zat yang oke atau enggak, manfaatnya dan dampaknya, dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan, I think that's it. Untuk mereaksikannya, untuk keelektronegatifan, gaya tarik, bentuk molekul yang invisible itu, apa harus semua orang harus tahu? Rasanya tar anakku kalau nggak tau pun aku ga terlalu keberatan. Kecuali kalau minatnya ke situ. Tapi rasanya ga usahlah. 
Nah, kalau udah begitu, balik lagi ke kurikulum sekolah umum, udah efektif nggak sih? Penting semua nggak sih? Soalnya kalau dicampur Geografi, Ekonomi, Fisika, Biologi, Kimia, ditambah Agama (yang masih membingungkan, kenapa juga harus diajarkan di sekolah), rasanya kok kebanyakan dan agak-agak wasting time. Rasanya agak pas kalau dah sesuai minat dari awal. Hahhahaa, kebayang kalau Marissa baca ini, komennya: "Situ guru kok nggak percaya pada pendidikan formal? Kamseupay. Jangan-jangan ijazah palsu."

*amit-amit jabang bayi

Saturday, October 29, 2011

SK or Money?


Tidak ada kejadian aneh di sekolah kalau Heather tidak berulah. Yeah, hampir semua kejadian bersumber pada ulahnya. Kurang lebih seminggu lalu, Heather mengamuk lagi. Kali ini pada salah satu TU yang juga pembantu bendahara, yang mengerjakan semua laporan pertanggungjawaban keuangan. Jadi, untuk memaksimalkan kegiatan dan supaya uang operasional sekolah tidak dikembalikan ke suatu badan yang memeriksa keuangan (daripada ga jelas dikembaliin juga diembat atau enggak sama tu badan), biasanya digunakan sistem silang. Untuk mendanai kegiatan yang tidak boleh masuk di mata anggaran, sementara tu kegiatan perlu duit, akhirnya laporan dibuat lah kegiatan yang sebenarnya tidak terlalu perlu dana banyak. Tujuannya supaya semua pelaksanaan kegiatan bisa dilakukan. Boong ga sih? Ya terserahlah. Dosa nggak sih? Yah itu urusan Tuhan lah. Mana kita tahu yang dosa itu yang gimana. Yang jelas kalau maki-maki orang dan bikin orang lain terluka dan tersakiti hatinya, rasanya semua udah tahu, itu masuk kategori dosa.
Nah, si Heather ini menuding-nuding si pembuat laporan keuangan ini berdosa karena menerbitkan SK kegiatan abal-abal. Katanya. Padahal SK itu dibuat untuk menutupi honor guru UN yang memberikan bimbel tahun lalu. Secara, bimbel ini gretongan dikasih ke anak-anak. Enak ya. Volunteer getu kita. Jadi SK yang dibuat adalah SK kepanitiaan kegiatan tertentu yang memang dikarang-karang. Bendaharanya sih udah jelasin kalau untuk kepanitiaan itu ga ada uangnya, karena dah dipake untuk honor bimbel. Si Heather sih udah dapat juga. Nah, karena melihat namanya tidak tercantum di situ dia ngamuk, katanya tersinggung karena namanya ga masuk. Jadi dia maki-maki si pembuat laporan. Katanya pembuat laporan berdosa karena SKnya palsu (lha, padahal selama ini ya gtu). Si pembuat laporan bilang, itu SK cuma untuk kepentingan laporan, jadi dipasang nama-nama orang yang sering muncul di sekolah supaya gampang dimintai tanda tangan. Dan itu ga ada uangnya.
"Ini bukan masalah uangnya, ya. Karena saya tidak pernah mau mengemis uang." Habis itu dia terus ncerocos sambil tereak-tereak dan menyumpah-nyumpah bawa nama Tuhan dan bawa-bawa dosa. Si pembuat laporan ga dikasih ngomong. Yang denger (termasuk aku) ikutan jengkel dan berasa kayak ditikam. Kasar banget ngomongnya. Hiii, merinding roma.
Malamnya dia kirim SMS ke orang yang dimaki-makinya, bilang minta maaf. Hebat ya, habis maki-maki orang sampai nangis, langsung minta maaf via SMS. Serasa dunia hanya miliknya seorang. Akhirnya si pembuat laporan yang selama ini paling ngerti seluk beluk laporan pertanggungjawaban keuangan itu mengundurkan diri dari tugas pembuat laporan bendahara dan diserahkan kembali ke pemegang jabatan asli yang notabene kurang tahu apa-apa. Jadi, nama di SK sebagai bendahara tuh Bu Indun beserta pemegang uang. Padahal yang mengerjakan laporannya adalah Si Reny, TU yang masih honorer. Karena masih honorer, dia tidak bisa diberi jabatan itu.
Di dalam SMSnya, si Heather bilang, maaf ya Reny, saya tu bukan masalah uangnya. Saya mau SKnya, untuk naik pangkat. Kata Reny, kalau mau bikin SK ya saya bikinkan SK, tapi ga usah marah-marah gitu lah. Dia bilang, maaf ya, saya emosi.
Well then, rasanya dikau perlu terapi deh Heather. Karena biasanya nih ya, di mana-mana, sejak dulu sampai sekarang, orang kalau mau ngomong dipikir dulu, bukannya ngomong dulu baru mikir belakangan. Bukannya kamu sarjana sains lulusan salah satu universitas negeri bergengsi di Sulawesi? Rasanya otak lebih besar daripada mulut, harusnya otakmu lebih banyak difungsikan daripada mulut kamu!

Gambar "brain and mouth" dari http://www.swiveltime.com/

Friday, July 15, 2011

Curhat

Salah satu follower blog ini yang juga mantan murid (selamat ya Alfi, masuk Unmul), pas ketemu saya di sekolah nanya: "Bu, kok nggak ada postingan baru di blognya? Selama Juni ga ada posting, ini sudah Juli lho, Bu."
Saya bilang (klise lah), "Aduh ga sempet, Fi, nantilah ya." 
Itu alasan utama memang. Tapi, ada alasan lain yang lebih penting. Ini yang akan jadi curhatan saya di sini, yang juga akan menjadi intermezzo untuk ke cerita selanjutnya. 
Jadi, jujur, cerita-cerita di blog ini memang nyata, bukan fiksi. Nama tokohnya saya samarkan dengan susah payah. Seorang kawan dekat yang juga (syukurnya) follower blog ini (newlywed Tika Maya) pernah nanya, "Kamu nggak takut itu pakai identitas sekolah kamu?" Saya bilang, "Gapapa, ga ada yang baca ini. Lagian nama-namaya disamarkan."
Ternyata (syukurnya), followernya nambah aja, yg mampir juga nambah aja (thanks lagi ke Tika). Lama kelamaan  ada murid yang baca juga. Ketika mereka ketemu saya dan bahas postingan saya, rasanya seperti pakaian saya dilucuti satu per satu, lalu terlihat apa yang seharusnya tidak diperlihatkan. 
Masalahnya, cerita di sekolah tempat kerja saya, bukannya semakin membanggakan, malah semakin memalukan. Orang-orangnya sudah seperti musuh dalam selimut. Susah untuk percaya penuh dengan mereka. Saya baru nemuin satu orang yang ternyata memang bermuka dua. Ga nyangka. Pertarungan antarblok bikin kita ga nyaman. Kalau soal kerjaan semuanya cuek, tapi giliran mengomentari, semuanya berlomba komentar. Bangunan bermasalah, ada konflik dengan SD dan SMP. 
Saya kadang ragu, ini bisa saya ceritakan nggak ya? Ini berbahaya nggak ya, kalau saya tulis di blog? Begitu-begitu lah. Saya memang bukan tipe konfrontir seperti Heather. Saya lebih suka main aman. Menurut saya situasi di sekolah sekarang sedang genting. Orang-orangnya mulai darah tinggi, sensitif kayak pantat bayi, kehilangan kepercayaan. Anak-anak mulai gontok-gontokan juga. Perang dingin. Masa kegelapan lah. 
Jadi, selain sibuk dan banyak kerjaan, alasan saya vakum  ya, karena saya bingung bagaimana cara menuliskan cerita yang terjadi di sekolah dengan cara yang agak halus.Padahal yang halus itu kadang kurang sedap. Kalau sudah terbit keinginan menuliskan apa yang terjadi, saya tiba-tiba merasa ada yang menahan. Suara di otak saya bilang, "Cari cerita lain aja deh." 

Wednesday, June 1, 2011

Over My Dead Body!!

"Over my dead body". Kalimat ini kurang lebih padanannya dalam bahasa Indonesia adalah "Langkahi dahulu mayat saya!" Rasanya udah ga terlalu penting dilangkahi atau enggak, kalau seseorang sudah jadi mayat. Kecuali ada pernyataan konyol yang aku dengar waktu kecil: Mayat dilangkahi kucing (jadi) hidup. Bagus dunk, ga jadi meninggal. Orang tidur dilangkahi, katanya pamali. Padahal, mana tahu juga yang dilangkahi. Toh lagi tidur.
Rupanya langkah melangkahi ini agak tabu, bukan cuma untuk mayat atau orang tidur, tapi juga untuk orang yang masih hidup dan tidak tidur. Figurative speech. Melangkahi maksudnya adalah diabaikan, tidak dianggap, biasanya berkenaan dengan jabatan. Malangnya, kadang yang melangkahi tidak merasa. Sebaliknya, yang (merasa) dilangkahi kadang ya hanya perasaan dia sendiri. Padahal ga ada melangkah-dilangkahi. Ribet? Memang.
Jadi, singkatnya begini: tanggal 12 Mei kemarin D-day nya farewell kelas XII SMA 8. Panitianya tentulah orangtua murid. Panitia sekolah ada juga dunk, kayaknya sih Waka Kesiswaan. (Harap maklum, pas rapat, penulis sering tidak terlalu menyimak). Nah, Waka Kesiswaan berurusan dengan OSIS kan, OSIS yang dipercaya mengatur semua acara. Pas rapat dengan Principal, Principal menunjuk beberapa guru untuk diserahi tugas. Pak Anto (Mr. English) koordinator seksi acara, jadi dia yang membuat performance list dari semua penampil. Heather urusan penerima tamu, Bu Indun bagian launching website, ada yang konsumsi. Aku ya biasalah, dokumentasi dan fotografi *halah.
Ternyata, pas D-day si Wakasis nggak datang. Rumor has it, hari sebelumnya dia bilang ke anak-anak TU kalau pas D-day dia gak akan datang. Katanya sih, merasa dilangkahi. Nah lo, kita menebak-nebak, siapa yang melangkahi beliau. Merasa bingung, karena semua orang dah diserahi tanggung jawab masing-masing, akhirnya one of my good friend, si Pak Nuh bilang gini: "Dari yang saya amati, dia selalu merasa dilangkahi oleh siapa pun. Bahkan oleh Kepsek."
Kupikir-pikir, kuingat-ingat, hmmm bisa jadi. Dia sering ga cocok dengan banyak orang, susah diberi masukan, malah menolak kalau diserahi tugas. Jadi, ya common lah, semaunya sendiri. Waktu masalah kelulusan anak-anak, si Kepsek kan banyak mendelegasikan tugas ke Pak Nuh selaku wali kelas XII IPA dan WakaHum, cuman ya kayaknya gitu, merasa dilangkahi lagi. Waktu itu aja aku pernah bawa siswa studi luar sekolah ke Samarinda. Dia marah karena merasa gak diberitahu. Aku, mana kepikiran, wong dia jarang di sekolah. Lagian, should I tell him? I don't know. Ok, maybe I was wrong at that case, but still. Harusnya dia introspeksi, waktu itu sih dia emang Wakasis, tapi kok jarang di sekolah ya? Hmmm, ga mau ngurusin itulah.
picture from http://www.heraldsun.com.au/ipad/russian-roulette-in-garage/story-fn6bfmgc-1225979010380
Baiklah, sekolah itu suatu sistem ya, ada aturannya. Setiap jabatan/tugas punya deskripsi tugas masing-masing. Mungkin harus kenali deskripsi tugas masing-masing sebelum mengintip deskripsi tugas orang lain lalu mengomentarinya di belakang. Pakai merasa dilangkahi pula. Kalau aku sih ya, dilangkahi, misalnya tugasku dikerjain orang lain, waaah makasih banyak lah. Dengan senang hati lah, langkahi saja. Jadi ga repot :P
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...