Showing posts with label students. Show all posts
Showing posts with label students. Show all posts
Sunday, September 15, 2013
Lamaran dan Jujuran
Beberapa minggu lalu seorang ibu paruh baya datang ke sekolah. Orang tua murid kelas X. Meminta izin agar anaknya (yang sudah seminggu tak ada kabar) untuk ditambah izinnya. Alasannya, seminggu kemarin anaknya malu ke sekolah karena beredar gosip kalau anak itu akan dilamar, tapi tak kunjung jadi. Mungkin malu karena dianggap sesumbar. Waktu ditanya guru BK kenapa nggak sekolah aja sampai lulus, nanti aja nikahnya. Ibu itu malah bicara ngalor ngidul kalau sebenarnya anaknya masih ingin sekolah tapi pihak lelaki ingin segera menikah. Ya sudah, kata guru. kalau memang maunya begitu, silakan kawin lah. Minta perpanjang izin satu minggu untuk apa lagi?
Nanti dulu, kata si ibu. Dalam seminggu ini kami memberi syarat jujuran (besarnya uang syarat melamar) 45 juta. Kalau laki-lakinya tak sanggup, kami batalkan lamaran, lalu dia sekolah lagi. Boleh ya, Bu, tanyanya kepada Waka Kurikulum (mewakili Kepsek saat itu) dan kepada guru BK. Malas menjawab karena memaksa, ya atau tidak mungkin akan sama saja, maka ibu itu pulang.
Seminggu kemudian, ibu itu dan anaknya muncul pagi-pagi sekali di sekolah. Kebetulan saya yang ketemu. Saya yang waktu itu tidak mengerti akar masalahnya (dan ga ngeh juga maksud ibu itu pas bicara dengan saya), hanya memintanya menunggu guru BK. Ternyata pacar anak itu tidak menyanggupi si 45 juta ini. Jadilah si anak back to school. Si Emak nggak jadi dapat uang. Saya hanya sempat menerti satu kalimat dari ibu itu saat bicara pada saya, "Bapaknya dia marah-marah, kalau belum sanggup melamar, tidak usah melamar."
Jadi nilai anak itu untuk dikasih ke cowoknya 45 juta. Pendidikan terakhir: SMP. Oya, sekolah kami menerimanya untuk tetap bersekolah. Karena yaaa, kebijakan pendidikan gratis, wajib belajar 12 tahun. Semua anak harus sekolah.
Monday, January 23, 2012
Hamil
Zaman dulu, waktu saya masih SMA (SMU waktu itu), kalau ada anak sekolah yang hamil, sekolahnya dicap jelek. Dianggap tempat berkumpulnya "anak nakal". Well itu dulu. Lalu berlomba-lomba lah setiap sekolah agar jangan sampai ada yang dihamili, at least sampai selesai EBTANAS. Singkatnya, dulu hal itu dianggap aib seaib-aibnya.
Sekarang, mungkin masih aib, tapi rasanya udah enggak aib seaib-aibnya. Aib kadar normal. Rasanya kalau ada sekolah yang menelurkan pelajar hamil, yah sudah, paling juga dikeluarkan. Kalau si anak bisa berinisiatif menggugurkan dan sekolah pura-pura tidak tahu, maka selamatlah.
Di sekolah saya, setidaknya ada 1 kasus tiap tahun. Malu? Atas kapasitas saya sebagai apa sehingga saya mesti malu? Paling cuma diejek kolega dan kawan (waktu saya belum hamil): "Ih, kalah ya sama muridnya." Saya, seperti biasa cuma nyengir.
Di sekolah saya, setidaknya ada 1 kasus tiap tahun. Malu? Atas kapasitas saya sebagai apa sehingga saya mesti malu? Paling cuma diejek kolega dan kawan (waktu saya belum hamil): "Ih, kalah ya sama muridnya." Saya, seperti biasa cuma nyengir.
Jadi begini ya, setiap guru ketemu siswa cuma 2-5 jam per minggu. Isinya materi pelajaran. Nyelip-nyelipkan nasihat cuma 15 menit (kalau saya sih, nggak tahu guru lain yang suka ngobrol ya). Itu pun isinya seputaran kurangi megang gadget dan kalau ingin bisa mengerjakan soal Mafia (Math, Fisika, Kimia) ya harus banyak latihan soal. That's it. Nggak terlalu sering menyinggung soal gaya berpacaran--paling seputaran permasalahan dalam pacaran yang bisa mengalihkan semuanya. Urusan putus, selingkuh, cemburu, dan sebagainya. Tentang yang lain, misal mereka pacaran di semak-semak, kuburan, di rumah cowok saat ortunya ga ada, di hotel murmer, saya usahakan nggak pernah masuk ke ranah itu. Karena sepertinya too negative dan agak menuduh. Kecuali untuk anak wali yang mengeluh soal kewanitaan, biasanya saya ya berusaha untuk nggak nuduh dan mengingatkan untuk hidup dan pacaran "bersih" atas nama kesehatan kewanitaan.
Jadi kembali kepada kapasitas sebagai guru. Kalau boleh digeneralisasi, saya dan teman-teman guru sebatas mengingatkan tentang itu. Mereka dikenalkan soal kesehatan reproduksi, ada bidangnya di Pusat Informasi Konseling Remaja. Ada materi tentang kesehatan remaja (sex ed) saat masa orientasi dan ada seminar-seminar tentang perilaku remaja termasuk seks bebas dan narkoba. Ada pelajaran Biologi, ada pengembangan akhlak. Lagian secara total, sekolah cuma menyita sepertiga waktu harian mereka. Itu pun rasanya tidak tersita banget karena anak sekarang lebih cuek dan semau gue. Jadi, masih tanggung jawab sekolah? Jadi salah siapa? Salah sekolah? Salah saya? Salah teman-teman saya? *lho
Kalau ada siswa SMA 8 yang hamil, terus terang saya sedikit merasa kecolongan, tapi tidak lantas menyalahkan diri. Terlebih dari dua kasus terakhir di dua tahun kemarin, mereka sudah hamil besar saat baru beberapa bulan masuk di SMA. Jadi, kalau dihitung-hitung (kepo banget ya ngitung-ngitung) proses pembuatannya ya saat lulus SMP. Toh tidak lantas kita menyalahkan SMP itu.
Di kota yang agak besar, masalah ini toh biasa. Lebih parah bahkan, mainnya udah ke praktik aborsi. Ini bukan rahasia lagi. Jadi, apa saya masih malu kalau ini diketahui orang? Rasanya tidak juga. Apa saya perlu merasa kecolongan? Lumayan. Tapi siapa yang kecolongan? Yang hamil tentunya.
Kalau ada siswa SMA 8 yang hamil, terus terang saya sedikit merasa kecolongan, tapi tidak lantas menyalahkan diri. Terlebih dari dua kasus terakhir di dua tahun kemarin, mereka sudah hamil besar saat baru beberapa bulan masuk di SMA. Jadi, kalau dihitung-hitung (kepo banget ya ngitung-ngitung) proses pembuatannya ya saat lulus SMP. Toh tidak lantas kita menyalahkan SMP itu.
Di kota yang agak besar, masalah ini toh biasa. Lebih parah bahkan, mainnya udah ke praktik aborsi. Ini bukan rahasia lagi. Jadi, apa saya masih malu kalau ini diketahui orang? Rasanya tidak juga. Apa saya perlu merasa kecolongan? Lumayan. Tapi siapa yang kecolongan? Yang hamil tentunya.
Thursday, January 19, 2012
SIKSA!!*
Semesteran kemarin lumayan membuat stres dan agak membuat marah.
Kelas X angkatan 11/12 ini benar-benar memilukan dan bikin pengen jedotin kepala ke tembok. Kepala siapa? Kepala anak-anak itu lah, ngapain juga kepala sendiri. Sakit dunk.
Rupanya apa yang telah diajarkan ke anak-anak itu, yang sehari-harinya mereka dengan mantap dan gagah bilang: Ngerti, Bu. Gampang, Bu... ketika diujikan di semesteran bersamaan dengan materi yang lain, mereka lupakan. Mungkin dianggap remeh temeh. Udah yakin pernah tau, jadi ga perlu dipelajari lagi. Atau nggak ngerti maksud soal (?!?). Atau nganggap bakal lulus aja? Toh ada remedial.
Yang memuakkan, udah bikin soal capek-capek, berpikir keras, memilah dengan hati-hati sambil berpikir: bisa nggak ya kalau dikasih soal ini? -- Eh ternyata mereka ngerjakannya tutup mata, meramal. Dan salah! Asal silang.
Yang memuakkan, udah bikin soal capek-capek, berpikir keras, memilah dengan hati-hati sambil berpikir: bisa nggak ya kalau dikasih soal ini? -- Eh ternyata mereka ngerjakannya tutup mata, meramal. Dan salah! Asal silang.
Yang ngajar matematika sampe bilang: Saya nggak mau koreksi pekerjaan mereka, paling juga nilainya 2, 3, 4.
Yang ngasih remedial ngeluh: Apaan, udah remedial soalnya sama, tetep ngejawabnya yang salah.
Saya sih males ngasih remedial, karena sama aja. Dan hampir sekelas remedial. Semua mata pelajaran!
Bayangkan, mereka nanyanya: Bu, kapan remedial ini? Pak, kapan remedial itu? Semua mata pelajaran ditanyai. Hidup kok cuma untuk remedial. Mendingan ga usah belajar sehari-hari. Langsung ujian aja. Toh sama aja. Tapi kalau saya ngomong gitu ke forum guru, dianggap nggak menghargai proses dan malas melakukan proses. Lha wong prosesnya mandeg. Kayak dorong mobil yang ga bisa jalan sama sekali. Kalau mogok aja mending bisa didorong. Model yang ginian anggap aja ga ada ban satu. Ya nggak jalan. Bikin keringetan tapi ga maju-maju.
Akhirnya saya memutuskan meniadakan remedial. Mereka bersorai karena dipikirnya bagus semua. Oke, nilai saya utangi, tapi tar kalau ketemu di semester baru, SAYA SIKSA KAMU! begitu pikir saya. Dilembutin ga mempan, waktunya dikerasi.
Akhirnya saya memutuskan meniadakan remedial. Mereka bersorai karena dipikirnya bagus semua. Oke, nilai saya utangi, tapi tar kalau ketemu di semester baru, SAYA SIKSA KAMU! begitu pikir saya. Dilembutin ga mempan, waktunya dikerasi.
Kadang sih ga peduli, wong Kimia ini. Nggak terlalu vital untuk kehidupan mereka, specifically. Asal tahu dan mengenali zat yang oke atau enggak, manfaatnya dan dampaknya, dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari dan lingkungan, I think that's it. Untuk mereaksikannya, untuk keelektronegatifan, gaya tarik, bentuk molekul yang invisible itu, apa harus semua orang harus tahu? Rasanya tar anakku kalau nggak tau pun aku ga terlalu keberatan. Kecuali kalau minatnya ke situ. Tapi rasanya ga usahlah.
Nah, kalau udah begitu, balik lagi ke kurikulum sekolah umum, udah efektif nggak sih? Penting semua nggak sih? Soalnya kalau dicampur Geografi, Ekonomi, Fisika, Biologi, Kimia, ditambah Agama (yang masih membingungkan, kenapa juga harus diajarkan di sekolah), rasanya kok kebanyakan dan agak-agak wasting time. Rasanya agak pas kalau dah sesuai minat dari awal. Hahhahaa, kebayang kalau Marissa baca ini, komennya: "Situ guru kok nggak percaya pada pendidikan formal? Kamseupay. Jangan-jangan ijazah palsu."
*amit-amit jabang bayi
*amit-amit jabang bayi
Gambar dari http://www.clipartof.com
Friday, March 25, 2011
Jangan Salahkan Siapa-Siapa
Tadi pagi, principal minta waktu sebentar, sekadar diskusi dengan kami, para guru. Bukan rapat dinas karena ga ada makan siang (dan aku ingat karena kelaparan, lupa bawa uang). Principal sharing tentang hasil pertemuan para kepala sekolah dengan Disdik.
Kemarin (12-17 Maret) kan ada pameran pembangunan (or something like that) di Penajam. Nah, stand-nya disdik ini memamerkan sedikit hal. Jadi, kepala bidang pendidikan menengah ini agak marah (emang hobinya marah kan ni orang) karena dari SMA se-Penajam ga ada yang memamerkan hmmm apa ya, alat peraga lah. Guru kan karyanya ya seputaran itu. Yang paling ditodong tentulah SMA 1. SMA 8 yang deket dengan lokasi juga ditodong. Jadi, target kita sekarang adalah alat peraga, untuk dipamerkan tahun depan. Baiklah, itu sudah clear.
Dari situ, merembet ke pembelajaran. Alat peraga kan bertujuan menampakkan sesuatu yang riil yang bisa mewakili setiap pelajaran dan membuat siswa dapat melihatnya secara nyata. (Enak ya anak-anak sekarang. Kalau zaman aku dulu, jangankan riil, omongan guru aja kadang kagak ngarti. Kalau ga bisa dipukuli, dicubiti, disuruh berlutut lah sampe lutut sakit kena pasir di lantai yang catet... bukan ubin keramik). jadi, aku mulai menerawang, secara kimia kan hal yang paling tidak nyata. Atom, ga keliatan, elektron apalagi. Tapi, semuanya harus di-riil-kan.
Merembet ke pembelajaran per individu. Yep, that's rite beibeeh, per individu. approaching-nya harus beda per anak. Mulai dari Heather bilang: "Pak, pengalaman saya, anak-anak itu kalau diterangkan, mengerti. Mengerjakan soal, mengerti. Tapi, pas ulangan, hasilnya jeblok. Ternyata mereka ga pada belajar." "Iya, Pak, bener." Semuanya ikut menimpali, termasuk aku.
Responnya principal: "Kita ini berada di forum resmi, Bapak, Ibu. Saya menggunakan baju dinas, Bapak Ibu juga. Ketika berada di forum resmi, salah jika saya bertanya bagaimana hasil PBM. Lalu Bapak Ibu menyalahkan anak. Kita ini guru, tak berkapasitas menyalahkan anak, ga belajar lah, anak bodoh apalagi. Kecuali saya sedang di kebun, saya pake kaus lusuh, sedang mencangkul, baru bisa Bapak Ibu curhat tentang anak-anak yang malas belajar." Entah gimana, kita tertawa menanggapi beliau. Mungkin tertawa malu, bingung, atau merasa aneh. Aku sih ketawa shock.
Kemudian, Mr. English nyambung."Pak, kalau kita sudah melakukan pendekatan individual dengan anak-anak yang extraordinary, sudah saya jelaskan. Katanya mengerti. Saya tanya ulang, ternyata ga tau. Saya jelaskan lagi, ngerti. Pas saya tes, ga tau. Sampai tiga kali, Pak. Itu bagaimana ya? Harus pake treatment khusus ga ya? Karena saya menjelaskan dengan cara yang paling mudah yang umumnya semua anak mengerti. Ada dua orang, Pak, di kelas X-A. Dan, bukan membela diri, tapi teman-teman lain, di pelajaran lain juga merasakan hal yang sama dengan dua orang itu."
Entah gimana hasilnya jawaban Principal karena setelah itu aku dan Ms. Indonesian izin mau ngajar. Tapi, pas selesai ngajar, aku tanya Bu Ani-Kur, apa jawaban Kepala Sekolah. Katanya, tidak baik juga kalau guru menyalahkan diri sendiri. Yang disalahkan adalah ketidakmampuan. Aku yang sudah semakin lapar, tambah bingung. Jadi, bagaimana? Ya, bilang aja oknum. Oknum apa ini? aku tanya. Ya, oknum!
Sepanjang perjalanan pulang aku mikir, apa aku harus menemui Principal di kebun, saat beliau sedang mencangkul atau istirahat dari mencangkul dan bilang: "Pak, yang namanya DA dan AA itu menurut saya, IQ-nya di bawah rata-rata. Saya berani menantang dua anak itu mengikuti psikotes dan kita akan tahu, dia seharusnya tidak bersekolah di sekolah umum/ biasa."
Monday, February 28, 2011
Liga Pendidikan Indonesia (LPI)
![]() | |
| supporter |
Di mana-mana, mau di kampung, di kota besar, di Milan, Madrid, atau di Zimbabwe sekalipun, yang namanya pertandingan sepak bola pasti rame. Juga LPI ini. Dimulai dari tingkat Kabupaten/Kota (Dati 2) memperebutkan Piala Bupati/Walikota, sampai akhirnya tingkat nasional, memperebutkan piala Si Gendut (Presiden). Kayaknya pertandingan awal bagi SMA 8 adalah SMA 8 vs SMA 5. Waktu itu SMA 5 kalah lewat adu penalti. Skornya aku lupa. Habis itu, penyisihan SMA 8 vs. SMK Muhammadiyah menang 8-1 (ga seru sama sekali!). Masuk 8 besar, SMA 8 vs SMK 5, menang 3-0. Masuk 4 besar, lawan SMA 2. Skor awal 0-0. Kalah penalti 3-0.
Nah, ini bagian paling aneh dari sejarah sepak bola yang kutau. Jadi, waktu itu, shooternya 3 orang adalah yang hebat2nya. Shotter 1, Mukhlis (13)-penyerang. Bola yang ditendangnya tiba-tiba berbelok keluar gawang. Shooter 2, Bakar (C-10), bolanya nyentuh mistar gawang. Sementara tembakan dari pemain SMA 2 masuk semua. Shooter 3, Arijal (7), melenceng juga. Kita tercengang semua. Daaaan, anak-anak bilang SMA 2 pake pawang! Ada yang berjaga di belakang gawang. Baiklah, omongan orang kalah, pikirku. Ternyata, pas diceritain ke banyak orang, semua orang juga bilang begitu! Daerah mereka terkenal suka berpawang-pawang kalau main bola. Goalkeepernya bisa tiba-tiba kakinya kram, ga bisa gerak. Pemain lain bisa ngerasa tiba-tiba kakinya berat kayak digantungin jeriken. My goodness! Sutralah, paling nggak kita sportif dan fokus ke juara 3 dan 4.
![]() |
| Mukhlis (13) |
![]() |
| adu penalti |
Final untuk posisi 3 dan 4 ma 1-2 berlangsung Jumat (25/02) kemarin. Lagi-lagi, berakhir sampai ke penalti. Babak 1 SMA 8 memimpin 1-0. Babak ke-2 dibalas gol jadi 1-1. Penaltinya 5-4. Perfect score! Jadilah mereka dapat juara 3, dapat uang pembinaan 3 juta, plakat, dan bronze medal. Yang juara 1 dan 2 nya antara SMA 1 dan SMA 2. Nah, berakhir penalti juga. Katanya goalkeeper SMA 1, kakinya berasa kram itu tadi heheheh. Ngerasain juga. Jadilah, SMA 2 yang maju ke provinsi mewakili PPU. Gatau, pake magic2an lagi ga itu. Payah banget, demi bola sampai rela menyampingkan nilai-nilai kepercayaan/agama dan mempertaruhkan sportivitas.
Sekarang tentang pemain. Kebanyakan pemainnya dari kelas X dan XI IPS. XI IPA sama sekali ga ada! I mean, mereka rata-rata anak yang pas-pasan bahkan ga jelas kalau di kelas. Nilainya hancur-hancur, nakalnya ga karuan. Ini untuk pemain utama ya. Pemain cadangannya sih ada aja yang lumayan pintar. Jadi, aku liat mereka tuh, kalau di kelas kan rasanya ilfil banget, tapi beda pas di lapangan heheheheh. Kayak hero gitu lah. Mukhlis yang paling gencar nyerang itulah yang paling ga tau apa-apa di kelas. Tapi, aku jadi respek sama mereka. Pemain bola eh! Apalagi yang namanya goalkeeper. The most amazing position hehehehe. Anyway, yang namanya Mukhlis itu pindah dari SMA 8. Tadi bapaknya datang untuk mengajukan kepindahan anaknya ke SMA 3 Balikpapan. Untuk mengasah skill bolanya kali. Kata bapaknya sih, SMA 3 nya yang personally meminta ke bapaknya Mukhlis. Sayangnya ga ada nilai transfer.
Wednesday, January 19, 2011
Kesurupan (2) dan Alcatraz (2)
Ingat hampir setaun lalu, pernah texting2an ma adik yang "paham" dunia lain. Dia bilang waktu itu, kesurupan dan setan berdatangan itu ga akan terjadi kalau ga ada yang membuka "segel". Oke, ini bukan peresmian gedung baru dan acara gunting pita di mana semua jin dan setan boleh datang sesukanya. Tapi ya gitu, ada segelnya ternyata. Nah, si Alcatraz ini diyakini guru-guru adalah "Sang Pembuka Segel". Jadi, karena ulah doski, berdatanganlah si jin dan setan ini.
Motifnya apa? Menurut guru BK, dia suka mendapat perhatian karena keahliannya mengusir si setan. Makanya dia buka segel dan mengusir lagi. (Wasting time, huh?) Bukti pendukungnya apa? Jadi, berkaitan dengan ekskul teater yang dia lakukan dengan anak-anak baru (adik kelasnya), ada beberapa saksi (termasuk aku) yang menyaksikan kalau dia membuat adik-adik kelasnya bertingkah seperti orang kesurupan. Nangis-nangis dan tereak-tereak. Akhirnya ada yang kesurupan beneran. Dalih Alcatraz sih itu bentuk penghayatan aja. Kalau ada yang kesurupan itu mah bukan salah saya. Salahnya sendiri karena lemah. Sehingga dia ga usah ikut teater.
Saat kesurupan pas 2nd anniversary ku itu (baca: Kesurupan-again), aku dan guru-guru diskusikan tentang motif dan bukti-bukti tentang kemungkinan itu ulah si Alcatraz. Akhirnya aku kembali ke kelas dan dengan nada agak marah bilang sama dia untuk selesaikan semuanya. Aku sih pakai bahasa "kalian". Kalian selesaikan saat ini juga, bagaimana pun caranya. Kalau besok masih terjadi, saya ga akan masuk kelas ini.
Alcatraz saat itu langsung marah dan merasa diintimidasi. Heheheh typical Alcatraz. Dia suka marah dengan guru yang menurutnya menganggap dia salah atau tidak menghargai dia. Dia juga akan marah kalau ada guru yang menurut dia terhasut oleh guru lain untuk melawan dia. Makanya saat itu dia bilang ke aku, "Ibu kok jadi gitu? Tadi Ibu baik-baik aja. Pas balik dari ruang guru kok langsung bicara begitu? Ibu kena hasutan siapa?" Dengan nada marah, menyelidik, dan merasa tertuduh. Aku cuma bilang: "Tidak ada yang menghasut. Ini sebab akibat yang logis, kok. Ngapain hantu tiba-tiba muncul dan bikin kesurupan kalau ga ada sebabnya."
Jawabnya lagi: "Mana saya tahu, kenapa bisa muncul."
Aku: "Siapa yang memaksa kamu untuk tahu. Hanya meminta agar ini diselesaikan karena keahlian kamu mengusir jin dan setan."
Alcatraz langsung marah, keluar kelas, dan sinis denganku berhari-hari.
Tuesday, November 16, 2010
Alcatraz (1)
Ada seorang murid, bilang saja namanya Alcatraz. Dia tergila-gila dengan magic. When I said magic about him means sulap dan sejenisnya. Bukan magic yang sihir, guna-guna, dan jin. Apakah hipnotis termasuk magic? Off course not. Tapi dia juga suka itu. Sayangnya, belakangan kegemarannya akan sulap dan hipnotis membuatnya disangka suka berurusan dengan jin (termasuk memanggil dan mengusirnya).
Alcatraz adalah murid yang cerdas. Bisa dibilang dia maestro sains di sekolahnya sekarang. Anaknya juga kelewat eksentrik dibanding teman-teman dan adik kelasnya. Kegemarannya beragam dan dia selalu mencoba mendalami semua hal. sains, english debate/speech, politics, teater, musik, pramuka, sulap, dancing, hipnotis, dan terakhir kayaknya parkour. Tapi entah dia termasuk multitalented atau hanya mencoba-coba untuk bisa pamer.
Dia sering menunjukkan trik sulapnya. Dia juga berkali-kali memposting fotonya sedang ber-parkour ria (kayaknya hal yang satu ini ga ada kelanjutannya). Ada lagi, dia selalu bilang ke aku (dan orang lain) kalau dia mengajarkan bahasa Inggris untuk anak SD. Dia juara satu olimpiade biologi tingkat kabupaten. Dia melatih teater di SMP almamaternya, diteruskan ke adik-adik tingkatnya di sekolah yang sekarang. Baiklah, mungkin dia multitalented dan suka mencoba hal baru. Mungkin dia bukan suka pamer, melainkan hanya suka dipuji karena kurang dihargai oleh orangtuanya. Anggapanku begitu.
Alcatraz adalah pengusir setan di kalangan teman-temannya. Kesurupan yang berulang kali terjadi, membuatnya beraksi seperti penangkap jin. Bener-bener menangkap dan memasukkannya ke dalam botol plastik air mineral. Let me tell you about that bottle. Itu adalah sebuah botol bekas air mineral yang tanpa label, peot seperti sucked, yang digunakannya sejak tahun lalu, saat peristiwa kesurupan terjadi besar-besaran di sekolah kita. Waktu itu, ada sekitar dua puluhan anak kesurupan dan ditaro di ruang guru. We (teachers) were only watching them, bengong, capek, bosan, karena terjadi seminggu penuh. Yuk mari! Alcatraz and one of his closest friend (dan punya minat yang sama) sibuk menangkap jin-jin (yang apparently punya nama!) ke dalam botol itu. Aku ingat, waktu itu dia tunjukkin botolnya and said to me, "Ada 12 di dalam sini, Bu." "Ok," kataku. Itu kejadian hampir setahun lalu.
Kemarin (15/11--my God, my anniversary) terulang lagi. Pas jam pelajaranku. And the bottle is still exist. Aku jengkel, karena ga selesai-selesai. Akhirnya aku suruh Alcatraz menyelesaikan semuanya. "No, I don't want too. Karena kita dah dapat larangan dari sekolah untuk berurusan dengan setan," kata Alcatraz diiyakan sobatnya. Aku bingung. "Ga ada yang ngelarang. Bahkan Bu BK bilang kalian harus nyelesaikan," gitu kataku. Si Alcatraz langsung bicara (seperti biasa, sangat cepat), katanya, "Mana, ibunya aja nggak ada minta maaf sama kita. Kita biarin aja begini terus..." dan bla bla, beneran aku nggak ngerti.Aku kembali ke ruang guru, becoz seriously, there's nothing I can do. I can't see them.
__to be continued__
Monday, November 15, 2010
Kesurupan (again)
Masa-masa kesurupan sudah lama berlalu sebenarnya. Sudah tak ada yang perlu dipusingkan. Setidaknya itulah yang kupikirkan. Sampai hari ini. Tadi upacara Senin, udah panas memang. Setelah itu aku masuk di kelas 3. baru duduk, selesai berdoa, baru ngomong, "Hari ini kita masuk materi terakhir buat kalian... " eh langsung ada yang jatuh. Keras banget pula jatuhnya. (Untung doski gak langsung stroke). Ribut. Biasanya kan emang pingsan adalah opening ceremony-nya kesurupan. "Oke, mungkin dia belum sarapan," kataku. Anak-anak perempuan kusuruh bukain jilbab ma kancing atas bajunya. Sekitar 15 menit kemudian, dia mengejang. Dan selanjutnya, tahu sendiri, beraksi hebat. Anak-anak (yang berkompeten) sibuk megangin. Aku keluar, mau panggil bala bantuan (haiyah). Habisnya, pengen cepet klar dan melanjutkan pelajaran dengan kondusif, tanpa setan dan jin.
Pas turun tangga, langsung ketemu principal. Ngobrol bentar (principal ini dulunya emang mau ditaro di sekolahku, tapi karena beberapa alasan, gak jadi. Makanya, aku sempet kenal. Anak-anak yang sekarang kelas 3 juga dah kenal. He is their favorite. Mine too!), habis itu kutinggal, nyari bala bantuan itu tadi. Aku gak bilang ke beliau. Kasian, beliau kan lagi masuk ke kelas-kelas.
Setelah ketemu dua bala bantuan, BK dan satu lagi, aku naik ke kelas, dengan dua guru itu. Si kesurupan diam. Jadi, kata ibu yang satu, sudah lanjutkan aja pelajaran, anggap aja ga terjadi apa-apa. Aku lanjutin aja. Eh, malah tereak lagi tu orang. Temen-temennya ngolok, "Ah, kamu akting!" Berbisik dia, "Tolong, tolong!" Karena makin keras, kuteriakin membentak gitu, "Heh!!!!" Sampai anak-anak lain kaget. Malah aku dibentak, "Apa kamu?" Sialan! Aku langsung balik badan, diketawain anak-anak. Habis itu, sampai aku pulang tadi, ada 4 orang yang tertular. Udah selesai, kambuh lagi. Guru-guru dah yakin, ada yang manggil setan-setan ini. Kalau enggak, ngapain dia datang dan ganggu-ganggu. Iya juga sih. Ada tertuduhnya. Si tertuduh sekarang marah-marah ke guru-guru. Termasuk aku. Kenapa? Karena... (bersambung)
Thursday, November 4, 2010
Ibu P
Ada seorang guru yang sudah sangat senior sekali dan saking seniornya sampai murid-muridku berpikir dia akan pensiun secepatnya. Don't hold your breath, kids! Ternyata beliau (di balik wajahnya yang terlihat lebih tua dari eyangku yang sudah hampir 80 tahun) belum tua secara umur. Masih 40 something. My goodness. Kecewalah anak-anak pas tahu kalau beliau baru akan pensiun belasan tahun lagi. Rasakan!!!
Well, what can I say about her? Hmm, a lot! Banyak sekali, sebanyak kata-katanya yang mengucur dari mulutnya yang nggak bisa diam. Pusing kalau ada dia (dan malangnya dia selalu ada--6 hari seminggu). Kita lagi kerja, dia ngajak ngomong. Kita lagi ngobrol, dia langsung nimbrung bahkan dari kejauhan, sambil tereak-tereak. Dan selalu bilang: "Kalau saya," "Kalau bapaknya," "Kalau anak-anak kelas..." Selalu nyamber.
Ada lagi. Beliau sudah lama merantau, tapi logat asalnya ga ilang-ilang. /n/ selalu jadi /ng/. Wah, kupikir-pikir ni orang kalau kuliah fonologi ga lulus-lulus kali ye. Sangat salah! Oleh sebab itu dari dulu dia selalu dijuluki Ibu /../ karena nasalnya itu. Walaupun sudah terbiasa, tapi kita masih sering ketawa dengernya.
Suatu hari dia tereak-tereak karena nyamber pembicaraan kita dan bilang, "Sudah saya telepong." Satu kolegaku yang suka usil bilang, "Telepon, Bu. Telepong itu tai sapi." Ibu itu diam aja.
Friday, March 19, 2010

Biasanya aku senang kalau ada murid yang aktif, antusias belajar, sopan dan hormat dengan guru, serta pandai menarik perhatian guru. Tapi, kalau terlalu berlebihan, siapa yang suka? Semua orang juga setuju kalau sesuatu yang berlebihan akan menjadi sangat memuakkan, menjemukan, mengerikan, bahkan dapat menghancurkan.
Di X-1 ada murid perempuan yang cantik, manis, mungil, pintar, dan sopan dengan guru. Oya, dia juga aktif, rajin, dan pandai mengatur kelas. Baiklah, I really love her. Kenapa? Karena pernah suatu saat dia absen pada pelajaran kimia karena menjadi salah satu wakil dari sekolah dalam entah acara apa. Lupa! Besoknya dia mendatangi aku dan minta penjelasan singkat tentang materi kemarin.
I was amazed! Bayangkan, ternyata ada juga murid SMAN 8 yang mau melakukan hal terpuji semacam itu. Pernah juga dia absen saat praktikum, lagi-lagi karena dikirim. Dia langsung meminta tugas. Hebat! Mana ada murid SMAN 8 yang berinisiatif meminta tugas. Harus dikejar-kejar dahulu,lalu ditagih sampai kita lupa. I really love this girl!
Sampai suatu saat... lama kelamaan aku sadar kalau dia agak kurang disukai kawannya. Ini menurut pengamatanku. Mudah-mudahan aku salah. Jadi, kemarin waktu X-1 belajar dengan molymod (senyawa karbon), aku meminta mereka merangkai senyawa apa saja dari molymod yang sudah aku bagikan. Mereka bekerja dalam kelompok. Aku minta mereka menunjukkan kepada teman, molymod yang mereka rangkai. Lalu, mereka harus menuliskan rumus strukturnya di whiteboard.
Tibalah giliran kelompok anak ini, dia lah yang maju, seperti biasanya. Dia menerangkan dengan baik sekali. Menjelaskan sampai detil. Kuperhatikan ekspresi kawannya sekelas seolah bosan, berkesah, banyak yang agak-agak buang muka juga. Ada yang tidur. Nggak sopan! Jadi, sepertinya mereka sudah sangat muak dengan sikap berlebihannya dia. Susah dijelaskan dalam kata-kata. Pokoknya, too show off!
Malamnya aku nonton Glee Season 1. Ada satu karakter di situ yang namanya Rachel (Lea Michele). Rachel memiliki suara yang range-nya jauh, jadi cocok untuk menyanyikan lagu apa saja. Kalau Glee Club konser atau mau ikut festival, Rachel selalu didaulat jadi vokalis utama. Dia pengatur, paling aktif, menjadi kesayangan William Schuester, pengelola Glee Club. Malangnya, teman-temannya agak membenci dia, meskipun tidak konfrontatif.
Yeah, karakter Rachel mengingatkan aku kepada muridku ini. Malangnya kau, Nak! I still love you though.
Subscribe to:
Posts (Atom)








