Saturday, December 14, 2013
Tips dan Trik
Dengar namanya, kebayang donk, menyelesaikan soal hitungan kimia di UN dengan mudah, cepat, dan singkat. Katakanlah, soal laju reaksi komplit yang biasanya diselesaikan dalam waktu 2 – 5 menit, bisa diselesaikan dalam waktu 1 – 3 menit saja. Tapi, yang namanya Disdik, pasti punya kejutan. Kejutan pertama, sewaktu acara pembukaan, dikenalkan 3 instruktur mafia (Math, Fisika, Kimia). Dari Johannes Surya Institute, sodara-sodara. Wah, alhamdulilah, ga harus jauh-jauh ke Jakarta. Gretong pula. Pikiran saya, pasti selain membahas soal UN, juga akan ada bonus trik penyelesaian soal Olimpiade Kimia. Tepuk tangan deh buat Disdik.
Kejutan kedua (mungkin memang nasib dan takdir kalau guru Pesek ga boleh seneng lama-lama), saat saya melihat jadwal kegiatan 4 hari itu, rasa senang saya pudar. Hari pertama: pemetaan kisi-kisi UN. Hari pertama, afternoon, langsung pembuatan soal Tryout UN. Sampai hari ketiga, full pembuatan soal tryout UN. Hari keempat lah itu peerteaching (which is ga ada juga karena dicepet-cepetin untuk penutupan). There is no necessary for 3rd surprise karena udah bisa ada kesimpulan bahwa: Diklat ini adalah modus Disdik untuk minta soal-soal tryout UN dari tim guru mafia, tanpa harus membayar “murah”. Karena biasanya udah dibayar murah. Jadi kali ini bisa free, alias vrij (bahasa Belanda) alias percuma (bahasa Malaysia). Tapi ga apa-apa, saya tetep legowo karena toh (katanya) mereka sudah memberikan tips dan trik. *wink.
Tuesday, April 23, 2013
UN yang Tertunda
Jumat tanggal 12 April saya mulai gugu (gundah gulana). Bagaimana tidak, Senin tanggal 15 April mulai UN. Mengawas UN akan sangat membosankan tentu. Belum lagi sekolah tempat saya mengawas jauuuuhhh. Tahun ini, tidak seperti tahun sebelumnya, UN dimulai jam 7.30. Dulu-dulu jam 8. Sesuai POS, pengawas wajib hadir 45 menit sebelum UN dimulai. Well berarti dengan segala.perhitungan, saya berangkat dari rumah jam 6.20. Di Kaltim jam segitu masih gelap.
Sabtu saya tetap datang ke sekolah mesti tidak ada tujuan. Karena mengawas, saya jelas bukan panitia UN di sekolah. Saya lihat panitia kalang kabut menyiapkam segala rupa printilan untuk kelancaran ujian. Kepsek memberitahu bahwa soal belum tiba di Polres. Besok katanya (Minggu).
Sabtu malam ada SMS dari Wakasek bid. Kurikulum. SMS yang tak kalah konyolnya dengan SMS pemberitahuan kalau saya menang undian yg tak pernah saya ikuti. SMS terusan dari Kepsek. Isinya: "Pak . . . ini berita terheboh untuk nasional: 'Aslkm Yth seluruh dekan dan pengawas lapangan, ini sms dari Panitia Pusat Jkt : Ujian Nasional SMA digeser menjadi Rabu s/d Sabtu dengan catatan: Mapel Senin pindah ke Jumat dan Mapel Selasa pindah ke Sabtu, sedang Mapel Rabu dan Kamis tetap. Ini penyampaian resmi dari Ka. Balitbang atas persetujuan Mendikbud. ...' "
SMS malam minggu. Menjelang jam istirahat malam. Saya bilang : ah, hoax! Sampai akhirnya sms minggu pagi tanggal 14. Katanya sudah dipastikan UN diundur hari rabu, kamis, jumat, senin. Sabtu kosong. Yang bingung lagi, Senin Selasa ngapain? Siswa kelas X dan XI sdh dikabari libur. Singkatnya, Senin subuh jam 4 beredar SMS bahwa guru diminta hadir di sekolah untuk berbincang dan berkoordinasi. Dari situ diputuskan wali kelas X dan XI diminta untuk mengabari siswa bahwa Selasa tetap hadir seperti biasa.
Senin itu ada kabar lagi kalau ada ralat dari Kemendiknas, UN dimulai Kamis. Jadi jadwalnya Kamis, Jumat, Senin, Selasa. Heran, kenapa tidak Senin-Kamis saja sekalian. Akhirnya tibalah hari Rabu (17/4). Soal masih belum ada. Sementara daerah lain kabarnya soalnya nyasar semua. Silaf mata kok parah.
Di TV ada news ticker: Mendiknas memastikan UN di Kaltim.diselenggarakan Kamis (18/4). Karena yg doi tahu soal sdh diberangkatkan ke Kaltim. Padahal sampai tengah malam soal belum sampai juga. Belum lagi didistribusikan ke kecamatan. Alhasil kami disuruh menunggu kabar kepastiannya sampai jam 00.00. Berasa new year's eve. Dan ditunda lagi ke Senin (22/4). Libur lagi!!!! Tapi Kamis kami tetap ke sekolah. Menghabiskan snack yang sudah terlanjur dipesan. Setelah pulang sekolah, ada kabar kalau UN dimajukan ke Jumat (19/4) dengan mapel Matematika. Habis lagi pulsa buat telpon/SMS. Untuk menceritakan penundaan UN saja sampai begini panjang. Kesimpulannya, berkali-kali ubah jadwal. Padahal kalau janji mau ulangan harian lantas diundur karena lupa bikin soal atau ulangan mendadak, pasti guru dimarahi siswa. Lha ini ujian nasional.
Monday, April 22, 2013
Pra-UN 2013
Sebelum pelaksanaan Ujian nasional (UN), ada pelaksanaan try out. Tentang dari mana soal berasal tampaknya menjadi kebijakan pemerintah daerah masing-masing. Tahun 2013 (sperti tahun-tahun sebelumnya), yang membuat soal adalah guru-guru setiap mata pelajaran. Di kabupaten ada forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Nah, kepala dinas pendidikan jauh-jauh hari biasanya mengumpulkan para ketua MGMP untuk diarahkan agar membuat soal try out.
Tahun ini karena digadang-gadang akan bersistem 20 paket soal (seruangan ada 20 siswa--artinya tiap siswa tidak akan mendapat soal yg sama), maka guru di MGMP diminta membuat 20 paket soal. Anggota MGMP Kimia tidak sampai 20 orang. Artinya beberapa guru kebagian membuat 2 paket soal.
Saya termasuk yang membuat 2 paket soal. Artinya total 80 soal. Harus sesuai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang termaktub dlm lampiran Permendiknas tentang UN 2013. Itu baru tryout 1. Belum lagi tryout 2.
Alhasil, tryout 1 karena hasil yg dikoreksi oleh tim panitia dari Disdik Kab. tidak jelas, apakah sudah dikoreksi tapi belum dikirim via email, atau sudah dikirim via email tp saya kebingungan mencari (karena yg terlihat hanya sebagian sekolah. Tidak ada nama siswa saya di situ), akhirnya saya memeriksa secara manual, karena siswa mengisi 2 lembar jawaban (LJK dan lembar manual silang). Dan hasilnya, alhamdulilah ya sesuatu. (tidak usah disebutkan nilainya).
Tryout kedua, guru kembali membuat soal. Saya kebagian membuat 2 paket soal lagi plus mengedit 2 paket soal buatan teman yang karut marut. Kali ini Disdik meminta MGMP yang membuat kunci jawaban di LJK. Ada 20 LJK yang harus dibulat-bulati sebagai master kunci.
Tahu tidak berapa bayaran guru-guru untuk membuat soal bejibun itu? Well, tahun lalu, honor yang dikasih ke MGMP adalah, saking kecilnya sampai kami sepakat untuk tidak dibagi. Bendahara bingung mau memberi honor kurang dari seratus ribu rupiah ke tiap anggota MGMP. Akhirnya disepakati untuk dimasukkan ke kas MGMP.
Padahal, kalau diintip anggaran pembuatan soal di disdik itu. Hmmm, yah begitulah. Yah, mau gimana lagi. Oya, walaupun guru yang membuat soal, tapi kami jamin tidak ada satu guru pun yg memberikan soal itu kepada siswanya. Jadi, membaca blog seorang guru "muda" yang menceritakan kecurangan UN di sekolah yg diawasnya.plus membaca replies nya yang sangat banyak, yang skeptis, saya marah. Apalagi ada yang sok tahu menggeneralisasi bahwa pelaksanaan UN 100% di Indonesia curang. Wah, I'm so mad sampai enggan menaruh link blog itu di sini. Nanti semakin ngetop blognya. Emoh!
Tuesday, June 12, 2012
UN-expected
Pengumuman kelulusan tanggal 26 Mei lalu menyisakan tanda tanya besar di kepala saya. Sebenarnya nilai-nilai UN yang menghebohkan setiap tahun hampir selalu menyisakan pertanyaan besar. Meski tak pernah terjawab secara pasti. Jadi kami hanya mereka-reka.
Tahun lalu mapel Kimia di sekolah saya, berdasarkan nilai rata-rata hanya berada di grade C. Rata-ratanya kalau tidak salah ingat sih 5,9 atau 5,75. Atau 6 ya? Lupa. Dengan nilai tertinggi 8,25 kalau tidak salah. Diraih oleh siswa yang bukan "chemistry master" meski dia termasuk pemerhati pelajaran saya.
Tahun ini, saya sebenarnya harus bangga dan bersyukur meski harus berbagi itu dengan substitute saya (saya cuti hamil) karena kimia berada di grade A. Yeiiiyyy! Ya, substitute saya mulai menangani anak-anak sebulan sebelum UN. Tidak penuh sebulan memang, karena ada tryout dan ujian sekolah. Entah kenapa saya faktor sebulan itu membuat saya berpikir kalau justru itulah yang ampuh.
Ibarat kata gini. Saya punya pasukan yang akan maju perang. Saya membekali mereka dengan perlengkapan perang yang menurut saya sudah memadai untuk mereka, minimal untuk dapat bertahan hidup. Sampai di garis depan, saya tak lagi bisa mengiringi mereka. Tugas saya diganti oleh Panglima Arin. Dia mengecek dan ternyata perlengkapan itu sangat kurang. Pas Panglima Arin tanya, mana ini, mana itu, pasukan saya bilang, "Rasanya sudah dibekali tapi hilang di jalan, atau kami buang ya? Atau jangan-jangan belum dibekali ya? Lupa, Panglima." Akhirnya Panglima Arin membekali ulang. Karena sudah di garis depan, rasanya kok susah untuk dihilangkan.
Akhirnya, nilai rata-rata 7,99. Daaannn, nilai tertinggi milik murid saya yang nggak ada minat-minatnya sama sekali dengan pelajaran. Bukan cuma Kimia. Bukan anak yang rajin juga cerdas. Nilainya 9,25. Salah 3 doang. Enak ya nilai UN sampai segono. Nilai EBTANAS Kimia saya aja dulu hanya mendekati 7. Lho, kok sirik? Saya nggak mau ngomongin pelajaran lain ya. Meski math ada yang 10. Sayang kalau nggak diomongin hehe. Bisa nggak sih nir-salah? Ternyata bisa. Diraih oleh murid yang jarang masuk sekolah karena dia atlet yang sering keluar kota. Tapi dia memang lumayan pintar.
Intinya nilai rendah membuat saya galau. Nilai tinggi nggak juga bikin happy karena bertanya-tanya, dapat jawaban dari mana?
