Sebelum pelaksanaan Ujian nasional (UN), ada pelaksanaan try out. Tentang dari mana soal berasal tampaknya menjadi kebijakan pemerintah daerah masing-masing. Tahun 2013 (sperti tahun-tahun sebelumnya), yang membuat soal adalah guru-guru setiap mata pelajaran. Di kabupaten ada forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP). Nah, kepala dinas pendidikan jauh-jauh hari biasanya mengumpulkan para ketua MGMP untuk diarahkan agar membuat soal try out.
Tahun ini karena digadang-gadang akan bersistem 20 paket soal (seruangan ada 20 siswa--artinya tiap siswa tidak akan mendapat soal yg sama), maka guru di MGMP diminta membuat 20 paket soal. Anggota MGMP Kimia tidak sampai 20 orang. Artinya beberapa guru kebagian membuat 2 paket soal.
Saya termasuk yang membuat 2 paket soal. Artinya total 80 soal. Harus sesuai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang termaktub dlm lampiran Permendiknas tentang UN 2013. Itu baru tryout 1. Belum lagi tryout 2.
Alhasil, tryout 1 karena hasil yg dikoreksi oleh tim panitia dari Disdik Kab. tidak jelas, apakah sudah dikoreksi tapi belum dikirim via email, atau sudah dikirim via email tp saya kebingungan mencari (karena yg terlihat hanya sebagian sekolah. Tidak ada nama siswa saya di situ), akhirnya saya memeriksa secara manual, karena siswa mengisi 2 lembar jawaban (LJK dan lembar manual silang). Dan hasilnya, alhamdulilah ya sesuatu. (tidak usah disebutkan nilainya).
Tryout kedua, guru kembali membuat soal. Saya kebagian membuat 2 paket soal lagi plus mengedit 2 paket soal buatan teman yang karut marut. Kali ini Disdik meminta MGMP yang membuat kunci jawaban di LJK. Ada 20 LJK yang harus dibulat-bulati sebagai master kunci.
Tahu tidak berapa bayaran guru-guru untuk membuat soal bejibun itu? Well, tahun lalu, honor yang dikasih ke MGMP adalah, saking kecilnya sampai kami sepakat untuk tidak dibagi. Bendahara bingung mau memberi honor kurang dari seratus ribu rupiah ke tiap anggota MGMP. Akhirnya disepakati untuk dimasukkan ke kas MGMP.
Padahal, kalau diintip anggaran pembuatan soal di disdik itu. Hmmm, yah begitulah. Yah, mau gimana lagi. Oya, walaupun guru yang membuat soal, tapi kami jamin tidak ada satu guru pun yg memberikan soal itu kepada siswanya. Jadi, membaca blog seorang guru "muda" yang menceritakan kecurangan UN di sekolah yg diawasnya.plus membaca replies nya yang sangat banyak, yang skeptis, saya marah. Apalagi ada yang sok tahu menggeneralisasi bahwa pelaksanaan UN 100% di Indonesia curang. Wah, I'm so mad sampai enggan menaruh link blog itu di sini. Nanti semakin ngetop blognya. Emoh!
Monday, April 22, 2013
Pra-UN 2013
Monday, November 12, 2012
Mahapatih
Ini bukan nama fans nya Kerispatih. Anggaplah patih di zaman kerajaan dulu. Tugasnya mungkin mendekati personal assistant zaman sekarang. Tapi ini mencakup semuanya, termasuk juru pikir, juru bicara, juru jilat. Kebetulan yang juru ini guru.
Jadi kalau rajanya kurang pikir kurang siasat, niscaya si juru ini akan menjadi raja kecil. Nggak papa kecil, yang penting raja. Kalau rajanya kurang pikir kurang siasat, yang untung si raja kecil ini.
Ada urusan perang yang menjadi kepentingan panglima perang, patih yang menghadang raja dan bilang, "Biar saya saja. Panglima kurang berdedikasi dan agak malas."
Ada pertemuan urusan ekonomi yang menjadi tugas bendahara kerajaan dia pula yang mengajukan diri dan bilang, "Dia suka menggelapkan uang dan membengkakkan anggaran." Ada pertemuan urusan pendidikan yang harusnya tugas mahaguru, dia yang menawar raja dan bilang, "Mahaguru itu kurang pintar dan sering alpa dalam tugas. Biar saya saja."
Akhirnya raja bilang ke semua petinggi kerajaan, "Hanya Mahapatih yang bisa saya andalkan. Yang lain bahkan tidak bisa dikatakan sebagai pelengkap. Perlu didisiplinkan lebih lanjut." Akhirnya mahapatih hidup bahagia karena pandai menjilat dan adu domba. Hidup lama sambil menunggu karma.
Gambar dari www.masksoftheworld.com
