Aku pernah membuat teori bahwa di Indonesia, seorang janda (baik yang divorced maupun widow asli) adalah penyakit menular atau kutu. Semua orang sepakat bahwa janda, layaknya penyakit menular berbahaya harus dijauhi. Banyak yang menyanggah, widow (janda karena ditinggal meninggal) lebih terhormat dan tidak boleh dijauhi, tetapi harus diselamatkan. Well, tidak juga. Ini berlaku untuk semua janda. Hanya terjadi di Indonesia.
Teorinya begini, janda itu dianggap sebagai penggoda laki-laki, bisa merusak rumah tangga orang lain, bisa menjadi benalu, bisa menjadi pengemis, dan hal negatif lainnya. Jadi, seolah terdapat ketakutan tak beralasan yang muncul di benak ibu-ibu atau istri-istri akan janda. Apalagi yang cantik. Akhirnya, kata "janda" menyandang konotasi yang negatif.
Begitu pula di sini. Baiklah, aku sudah membuktikan teori itu dalam kasus Vina. Vina yang divorced. Vina yang bersama dengan janda lainnya di kabupaten ini sering dituding sebagai perempuan simpanan atau perempuan bayaran. Orang akan selalu meneropong kehidupan Vina dibanding kehidupanku misalnya.
Sekarang giliran Bu Suri. Kasus ini masih hangat, masih baru. Jadi tampaknya belum tersebar di seluruh kabupaten ini. Hanya gentayangan di sekolah dan Dinas. Sekarang tampaknya Dinas (khususnya Pendidikan Menengah) menjadi sukarelawan mengurusi kehidupan pribadi orang lain. Alasannya guru harus bercitra baik dan benar. Mungkin beberapa bulan lagi mereka akan membuka layanan jasa konseling bagi guru. Well, that's the hope. *cynical.
Rumor has it, ada istri melapor ke Dikmen bahwa suaminya telah berselingkuh dengan Bu Suri. Istrinya cerita nangis-nangis dan minta agar suaminya dipisahkan dari Bu Suri. Jadi, Bu Suri telah diintimidasi oleh perpanjangantangan Kepsek untuk memutuskan, apakah dia mau pindah dari sekolah atau mau putus hubungan.
Jujur, aku nggak terlalu tahu hubungan seperti apa yang dimaksud. Dari Bu Suri, katanya sudah berakhir berbulan-bulan lalu. Dari dinas, katanya masih ada dan baru-baru ini laporannya. Entah mana yang benar. Seperti biasa aku lebih suka mendengar lalu menuliskannya.
Aku tadi diberitahu oleh salah satu kolega tentang cerita ini, tentang bagaimana cerita itu bisa sampai ke dia. Jujur aku tidak berhak menilai. Aku memang hanya diingatkan agar seandainya Bu Suri curhat, aku bisa menasihatinya untuk tidak meneruskan hubungan itu. Ya, aku memang akan berbuat itu IF ONLY she asks for my opinion.
Aku tidak mau dan tidak boleh menghakimi Bu Suri, karena aku tidak berada pada kondisi yang sama dengan dia. Aku juga tidak mau mengurusi urusannya, sampai sejauh mana hubungan itu. Aku juga tidak mau menasihati jika tidak diminta. Aku cuma akan memberikan pendapat jika ditanya. Jika tidak ditanya, lebih baik diam saja. Yang jelas, aku tidak punya pandangan buruk tentang Bu Suri. Karena, aku bisa saja lebih buruk dari dia, hanya orang lain tidak pernah tahu.
Friday, March 26, 2010
Friday, March 19, 2010

Biasanya aku senang kalau ada murid yang aktif, antusias belajar, sopan dan hormat dengan guru, serta pandai menarik perhatian guru. Tapi, kalau terlalu berlebihan, siapa yang suka? Semua orang juga setuju kalau sesuatu yang berlebihan akan menjadi sangat memuakkan, menjemukan, mengerikan, bahkan dapat menghancurkan.
Di X-1 ada murid perempuan yang cantik, manis, mungil, pintar, dan sopan dengan guru. Oya, dia juga aktif, rajin, dan pandai mengatur kelas. Baiklah, I really love her. Kenapa? Karena pernah suatu saat dia absen pada pelajaran kimia karena menjadi salah satu wakil dari sekolah dalam entah acara apa. Lupa! Besoknya dia mendatangi aku dan minta penjelasan singkat tentang materi kemarin.
I was amazed! Bayangkan, ternyata ada juga murid SMAN 8 yang mau melakukan hal terpuji semacam itu. Pernah juga dia absen saat praktikum, lagi-lagi karena dikirim. Dia langsung meminta tugas. Hebat! Mana ada murid SMAN 8 yang berinisiatif meminta tugas. Harus dikejar-kejar dahulu,lalu ditagih sampai kita lupa. I really love this girl!
Sampai suatu saat... lama kelamaan aku sadar kalau dia agak kurang disukai kawannya. Ini menurut pengamatanku. Mudah-mudahan aku salah. Jadi, kemarin waktu X-1 belajar dengan molymod (senyawa karbon), aku meminta mereka merangkai senyawa apa saja dari molymod yang sudah aku bagikan. Mereka bekerja dalam kelompok. Aku minta mereka menunjukkan kepada teman, molymod yang mereka rangkai. Lalu, mereka harus menuliskan rumus strukturnya di whiteboard.
Tibalah giliran kelompok anak ini, dia lah yang maju, seperti biasanya. Dia menerangkan dengan baik sekali. Menjelaskan sampai detil. Kuperhatikan ekspresi kawannya sekelas seolah bosan, berkesah, banyak yang agak-agak buang muka juga. Ada yang tidur. Nggak sopan! Jadi, sepertinya mereka sudah sangat muak dengan sikap berlebihannya dia. Susah dijelaskan dalam kata-kata. Pokoknya, too show off!
Malamnya aku nonton Glee Season 1. Ada satu karakter di situ yang namanya Rachel (Lea Michele). Rachel memiliki suara yang range-nya jauh, jadi cocok untuk menyanyikan lagu apa saja. Kalau Glee Club konser atau mau ikut festival, Rachel selalu didaulat jadi vokalis utama. Dia pengatur, paling aktif, menjadi kesayangan William Schuester, pengelola Glee Club. Malangnya, teman-temannya agak membenci dia, meskipun tidak konfrontatif.
Yeah, karakter Rachel mengingatkan aku kepada muridku ini. Malangnya kau, Nak! I still love you though.
Subscribe to:
Posts (Atom)