Monday, August 20, 2012

Para Kepsek

Setelah UN berlalu, pas ada jadwal mutasi dan pelantikan, tiba-tiba Sang Beliau Kepala Sekolah dimutasi ke Disdik, dengan jabatan khusus. Anggap saya lupa jabatannya. Tapi kepala sub bidang lah. Lumayan. Beliau senang pastinya. Banyak pihak yang juga senang. Saya yang masih cuti hanya dengar lewat SMS. Tentu tidak senang.





Maksudnya tidak senang bukan berarti saya iri Beliau dikasih jabatan dan pindah ke Kantor. Sama sekali bukan. Saya tidak mengincar hal semacam itu. I love being a teacher. Kok mendadak jadi tentang saya? Intinya saya merasa kehilangan Kepsek yang terbaik yang pernah memimpin saya, pada saat program memajukan sekolah masih bergelantungan menunggu untuk dilaksanakan.





Beberapa nama muncul menjadi nominasi pengganti Sang Beliau. Ada kepsek dari SMA di pedalaman sono. Orangnya pintar sih, master of engineering gitu lah. Chemistry pula. Tapi sosialisasinya gundul. Kaku. Misal saya juri audisi, akan saya bilang "next!"





Lalu ditunjuk pelaksana tugas kepsek, yaitu Bu Ani yang waktu tes kepala sekolah tahun ini mendapat peringkat 1. Oke beliau fresh graduate lah. Orangnya agak diktator, beberapa kolega di sekolah saya mungkin agak menolak kalau dia yang diangkat jadi kepsek di sekolah saya.





Selama kepsek dijabat oleh Plt, ada nama lain bersliweran. Ada kepsek lain, dari SMP yang sudah RSBI. katanya sih dia hobi travelling dan sistem keuangannya kabur. Oke, next!





Setelah menjalani tirakat setiap malam diiringi dengan spekulasi dan gosip-gosip dari Disdik, akhirnya penantian saya terjawab pas pelantikan sebelum libur puasa kemarin. Sekaligus menjawab rasa penasaran tiap orang. Ternyata Pak Jamin, guru sekaligus waka bidang kurikulum senior dari SMA 1. Mengikuti tes calon kepsek seangkatan dengan Bu Ani, tapi pas wajib magang, beliau yang magangnya di SMA 8 ga pernah muncul tuh. Ujuk-ujuk datang minta tanda tangan aja. Yah, at least orangnya santun, penyabar, dan ga pernah marah katanya. Yah well, itu yang dibutuhkan dari seorang kepala sekolah. Benarkah? Well, next!


Published with Blogger-droid v2.0.4

Tuesday, June 12, 2012

UN-expected

Pengumuman kelulusan tanggal 26 Mei lalu menyisakan tanda tanya besar di kepala saya. Sebenarnya nilai-nilai UN yang menghebohkan setiap tahun hampir selalu menyisakan pertanyaan besar. Meski tak pernah terjawab secara pasti. Jadi kami hanya mereka-reka.





Tahun lalu mapel Kimia di sekolah saya, berdasarkan nilai rata-rata hanya berada di grade C. Rata-ratanya kalau tidak salah ingat sih 5,9 atau 5,75. Atau 6 ya? Lupa. Dengan nilai tertinggi 8,25 kalau tidak salah. Diraih oleh siswa yang bukan "chemistry master" meski dia termasuk pemerhati pelajaran saya.





Tahun ini, saya sebenarnya harus bangga dan bersyukur meski harus berbagi itu dengan substitute saya (saya cuti hamil) karena kimia berada di grade A. Yeiiiyyy! Ya, substitute saya mulai menangani anak-anak sebulan sebelum UN. Tidak penuh sebulan memang, karena ada tryout dan ujian sekolah. Entah kenapa saya faktor sebulan itu membuat saya berpikir kalau justru itulah yang ampuh.





Ibarat kata gini. Saya punya pasukan yang akan maju perang. Saya membekali mereka dengan perlengkapan perang yang menurut saya sudah memadai untuk mereka, minimal untuk dapat bertahan hidup. Sampai di garis depan, saya tak lagi bisa mengiringi mereka. Tugas saya diganti oleh Panglima Arin. Dia mengecek dan ternyata perlengkapan itu sangat kurang. Pas Panglima Arin tanya, mana ini, mana itu, pasukan saya bilang, "Rasanya sudah dibekali tapi hilang di jalan, atau kami buang ya? Atau jangan-jangan belum dibekali ya? Lupa, Panglima." Akhirnya Panglima Arin membekali ulang. Karena sudah di garis depan, rasanya kok susah untuk dihilangkan.





Akhirnya, nilai rata-rata 7,99. Daaannn, nilai tertinggi milik murid saya yang nggak ada minat-minatnya sama sekali dengan pelajaran. Bukan cuma Kimia. Bukan anak yang rajin juga cerdas. Nilainya 9,25. Salah 3 doang. Enak ya nilai UN sampai segono. Nilai EBTANAS Kimia saya aja dulu hanya mendekati 7. Lho, kok sirik? Saya nggak mau ngomongin pelajaran lain ya. Meski math ada yang 10. Sayang kalau nggak diomongin hehe. Bisa nggak sih nir-salah? Ternyata bisa. Diraih oleh murid yang jarang masuk sekolah karena dia atlet yang sering keluar kota. Tapi dia memang lumayan pintar.





Intinya nilai rendah membuat saya galau. Nilai tinggi nggak juga bikin happy karena bertanya-tanya, dapat jawaban dari mana?








Published with Blogger-droid v2.0.4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...