Wednesday, September 12, 2012

Missing

Akhir-akhir ini (let's say last 2 weeks),  murid menghilang sedang nge-trend di SMA saya. Setidaknya 2 minggu ini sudah ada 3 kasus. Ada yg menghilang sendiri, ada yang bareng temen deket. Kalau kabur dari rumah sih bukan tanggungan sekolah. Masalahnya kaburnya dari sekolah. Ortunya mengira si anak sekolah, tapi nggak pulang-pulang.


Ada yang sudah kembali ke pangkuan ortu. Ditanya kemana, ternyata tinggal di rumah cowoknya. Yaksip. Kalau di US, pasangan yang dah pacaran lama pun nggak serta merta hidup bersama. Perlu pemikiran, kesepakatan, dll. Kalau ini kok kayaknya nggak dipikir-pikir, main langsung pindah tidur aja.


Ada lagi yang kabur karena males di rumah. Males dipaksa sekolah kali. Entah. Kalau sampai kabur dari rumah pasti rumahnya yg nggak enak. Easy to say eh. I've a daughter now. Meski masih bayi dan belum berkesempatan dating dsb, tapi saya udah jadi ortu. Ortu harus menyadari gimana bikin nyaman si anak agar betah di rumah. Gimana caranya anak lebih milih untuk kumpul dengan keluarga instead of being with someone else.


Entahlah, mungkin memang gejolak darah muda remaja sekarang yang ingin lebih cepat dewasa. Tapi malah nggak dewasa karena nggak mikir panjang. Jadi inget masa SMA, saya sudah pisah dengan ortu, pulang ke rumah seminggu sekali. Bisa pulang aja udah feels like in heaven. Rumah justru tempat terindah di dunia waktu itu.


Published with Blogger-droid v2.0.4

Monday, August 20, 2012

Para Kepsek

Setelah UN berlalu, pas ada jadwal mutasi dan pelantikan, tiba-tiba Sang Beliau Kepala Sekolah dimutasi ke Disdik, dengan jabatan khusus. Anggap saya lupa jabatannya. Tapi kepala sub bidang lah. Lumayan. Beliau senang pastinya. Banyak pihak yang juga senang. Saya yang masih cuti hanya dengar lewat SMS. Tentu tidak senang.





Maksudnya tidak senang bukan berarti saya iri Beliau dikasih jabatan dan pindah ke Kantor. Sama sekali bukan. Saya tidak mengincar hal semacam itu. I love being a teacher. Kok mendadak jadi tentang saya? Intinya saya merasa kehilangan Kepsek yang terbaik yang pernah memimpin saya, pada saat program memajukan sekolah masih bergelantungan menunggu untuk dilaksanakan.





Beberapa nama muncul menjadi nominasi pengganti Sang Beliau. Ada kepsek dari SMA di pedalaman sono. Orangnya pintar sih, master of engineering gitu lah. Chemistry pula. Tapi sosialisasinya gundul. Kaku. Misal saya juri audisi, akan saya bilang "next!"





Lalu ditunjuk pelaksana tugas kepsek, yaitu Bu Ani yang waktu tes kepala sekolah tahun ini mendapat peringkat 1. Oke beliau fresh graduate lah. Orangnya agak diktator, beberapa kolega di sekolah saya mungkin agak menolak kalau dia yang diangkat jadi kepsek di sekolah saya.





Selama kepsek dijabat oleh Plt, ada nama lain bersliweran. Ada kepsek lain, dari SMP yang sudah RSBI. katanya sih dia hobi travelling dan sistem keuangannya kabur. Oke, next!





Setelah menjalani tirakat setiap malam diiringi dengan spekulasi dan gosip-gosip dari Disdik, akhirnya penantian saya terjawab pas pelantikan sebelum libur puasa kemarin. Sekaligus menjawab rasa penasaran tiap orang. Ternyata Pak Jamin, guru sekaligus waka bidang kurikulum senior dari SMA 1. Mengikuti tes calon kepsek seangkatan dengan Bu Ani, tapi pas wajib magang, beliau yang magangnya di SMA 8 ga pernah muncul tuh. Ujuk-ujuk datang minta tanda tangan aja. Yah, at least orangnya santun, penyabar, dan ga pernah marah katanya. Yah well, itu yang dibutuhkan dari seorang kepala sekolah. Benarkah? Well, next!


Published with Blogger-droid v2.0.4
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...